Skip to main content
WikiDPR.orgMendekatkan Rakyat dengan Wakilnya

Harian Kompas, 17 Oktober 2014: Sidang Parlemen Dunia, Indonesia Kembali Gagal Memimpin

16/Okt/2014

Harian Kompas, 17 Oktober 2014: Sidang Parlemen Dunia, Indonesia Kembali Gagal Memimpin

Untuk ketiga kali berturut-turut, Indonesia gagal memimpin Inter-Parliamentary Union. Ketua delegasi Dewan Perwakilan Rakyat RI Nurhayati Ali Assegaf yang mencalonkan diri sebagai presiden Inter-Parliamentary Union kalah dari kandidat asal Banglades, Saber Chowdhury, dalam pemungutan suara di Centre International de Conferences, Geneva, Swiss, Kamis (16/10).

Bagi Nurhayati, ini kekalahannya yang kedua dalam pemilihan presiden Inter-Parliamentary Union (IPU). Tiga tahun lalu, Nurhayati juga kalah bersaing dengan kandidat asal Maroko, Abdelwahad Radi, yang kini digantikan Chowdhury. Bagi Indonesia, ini merupakan kegagalan ketiga berturut-turut dalam upaya memimpin IPU. Sebelum Nurhayati, mantan Ketua DPR yang kini Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat, Agung Laksono, juga pernah mencalonkan diri dan tidak terpilih.

Dalam pemilihan kemarin siang, seperti diwartakan wartawan Kompas, Khaerudin, pada putaran pertama, Nurhayati hanya meraih 76 suara dari 340 anggota delegasi. Dia berada di urutan ketiga. Di putaran pertama itu, Chowdhury meraih suara terbanyak (108 suara). Ketua Parlemen Australia Bronwyn Bishop meraih 99 suara. Mantan Ketua Parlemen Maladewa Abdulla Shahid berada di posisi terakhir dengan 57 suara.

Karena Chowdhury tidak mampu meraih minimum single majority, dilakukan putaran kedua untuk pemilihan presiden IPU. Tiga peraih suara terbanyak, termasuk Nurhayati, kembali ikut serta. Hasil pemungutan suara putaran kedua memenangkan Chowdhury dengan 169 suara. Bishop dan Nurhayati masing-masing hanya meraih 95 dan 57 suara.

Soal kekalahannya yang kedua itu, Nurhayati mengungkapkan, dirinya berusaha maksimal meraih dukungan. Lobi bilateral ke setiap delegasi dia lakukan, termasuk lobi ke tiap-tiap kelompok regional parlemen, mulai dari The Latin America and Caribbean Geopolitic Group (Grulac), Asian Parliamentary Assembly, Women Parliamentarians, ASEAN +3 (Jepang, Korea Selatan, dan Tiongkok), Arab Group, hingga African Group.

”Saya kira apa yang kami lakukan sudah maksimal. Saya berterima kasih kepada Kementerian Luar Negeri, dan Perwakilan Tetap Republik Indonesia di Geneva atas support maksimal. Juga kepada seluruh anggota delegasi DPR yang ikut mendukung pencalonan saya,” tutur Nurhayati.

Wakil Ketua MPR Hidayat Nur Wahid yang juga menjadi anggota delegasi DPR itu mengatakan, sebelum pemilihan, sebenarnya banyak delegasi yang menyatakan dukungan untuk memilih Nurhayati, tetapi saat hari pemungutan suara malah tidak hadir. Delegasi itu berasal dari Kamboja, Italia, negara-negara kelompok Grulac, dan sebagian negara Afrika berbahasa Perancis.

Anggota delegasi Indonesia yang juga politikus PDI-P, Hendrawan Supratikno, menyebutkan, kemampuan Chowdhury memang jauh di atas kandidat lain. ”Kelihatan sekali kandidat dari Banglades ini sangat bagus dan menguasai persoalan di tiap sidang,” katanya.