Skip to main content
WikiDPR.orgMendekatkan Rakyat dengan Wakilnya

Angka Stunting di Indonesia - RDPU Komisi 5 DPR RI dengan Forum Lintas Agama tentang Krisis Gizi pada Anak

Komisi/AKD: Komisi 5, Tanggal Rapat: 14/Feb/2018,  Ditulis Tanggal: 28/Feb/2018

Mitra Kerja: KemenDes-PDTT Fatayat NU Pilkesi Angka Stunting di Indonesia - RDPU Komisi 5 DPR RI dengan Forum Lintas Agama tentang Krisis Gizi pada Anak

Pada 14 Februari 2018, Komisi 5 DPR RI mengadakan rapat dengar pendapat umum (RDPU) dengan Forum Lintas Agama yang terdiri dari Pengurus Pusat Fatayat Nahdlatul Ulama ( PP Fatayat NU), Persekutuan Pelayanan Kristen untuk Kesehatan di Indonesia (Pelkesi), dan beberapa organisasi keagamaan lainnya. RDPU dijadwalkan pukul 10.00 WIB. RDPU diagendakan membahas mengenai angka stunting di Indonesia melalui peran legislatif dan eksekutif.

RDPU dipimpin dan dibuka Fary Djemi Francis dari NTT 2 pukul 11.20 WIB. Rapat dihadiri 5 anggota yakni Novita Wijayanti dari dari Jateng 8, Hanna Gayatri dari Sumsel 2, Sahat Silaban dari Sumut 2, dan Saniatul Lativa dari Jambi.

Pemaparan Mitra

Berikut merupakan pemaparan PP Fatayat Nahdlatul Ulama:

  • Kami tidak hanya dari Fatayat, tapi juga kolaborasi antar organisasi lintas agama yang fokus terhadap isu stunting.
  • Salah satu tujuan terbesar dan esensial dari suatu megara adalah mengembangkan Sumber Daya Manusia (SDM) yang berkualitas. Visi dan arah Pembangunan Jangka Panjang (PJP) 2005-2025 salah satu kebijakan terpenting negara adalah memberikan keleluasaan dalam upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia.
  • Namun, Laporan Human Development Report 2016 mencatat, Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Indonesia pada 2015 berada pada peringkat 113, turun dari posisi 110 di 2014 dari 188 negara.
  • Tingkat kecerdasan anak Indonesia dalam bidang membaca,matematika, dan sains berada di posisi 64 dari 65 negara.Anak Indonesia tertinggal jauh dari anak Singapura (posisi 2), Vietnam (posisi 17), Thailand (posisi 50), dan Malaysia (posisi 52).
  • Salah satu faktor yang menyebabkan penurunan gizi ini adalah kondisi gizi kronis yang menghasilkan kondisi gagal tumbuh dari balita (stunting).
  • Stunting adalah kekurangan gizi pada balita yang berlangsung lama,sejak konsepsi, kehamilan, hingga usia 2 tahun, dan menyebabkan terhambatnya perkembangan otak dan tumbuh kembang anak. Gagal tumbuh bisa terjadi dalam masa kandungan (IUGR=Intra Growth Retardation) serta saat (BBLR=Berat Bayi Lahir Rendah, kurang dari 2,5 kg dan panjang bayi lahir kurang dari 48 cm). Bayi atau anak yang stunting akan tetap tumbuh namun garis pertumbuhannya akan tetap berada di bawah bayi atau anak dengan gizi baik.
  • Situasi stunting di Indonesia, sekitar 37% (9 Juta) anak Indonesia mengalami stunting. Stunting terjadi baik di kalangan berpendapatan rendah maupun tinggi dan disebabkan oleh
  1. Kekurangan gizi dalam waktu yang lama.

       2.  Pola asuh yang tidak sesuai menyebabkan kekurangan asupan gizi

       3. Pola hidup yang tidak bersih (BAB sembarangan menyebabkan infeksi                         bakteri/kuman).

  • Stunting secara signifikan dipengaruhi oleh perkawinan dan kehamilan di usia muda dan kemiskinan.
  • Masalah stunting mengancam di setiap tahap kehidupan. Potensi terjadinya masalah gizi dalam siklus kehidupan ibu hamil yang mengalami anemia dan kekuranganProtein Energy Malnutrition (PEM)dan Micronutrient berpotensi melahirkan bayi dengan berat badan rendah dan ancaman stunting. Bayi tumbuh menjadi balita yang kekurangan berat badan, stunting, anemia, kekurangan vitamin A sub klinis. Balita tumbuh menjadi anak usia sekolah yang tingkat pertumbuhannya rendah, stunting, anemia, dan berdampak pada masalah kecerdasan. Anak usia sekolah tumbuh menjadi remaja putri dan perempuan muda yang mengalami stunting dan anemia. Remaja putri dan perempuan muda yang mengalami stuntingdan anemia menikah lalu hamil dan berpotensi melahirkan anak dengan kondisi berat badan lahir rendah, dan begitu seterusnya.
  • Remaja putri yang mengalami stunting dan anemia bisa menjadi manusia yang tidak siap melahirkan generasi yang baik nantinya.
  • Stunting memiliki dampak bagi individu dan masyarakat atau negara. Dampaknya bagi individu antara lain terhambatnya perkembangan otak dan fisik, rentan terhadap penyakit, ketika dewasa mudah menderita kegemukan sehingga rentan terhadap berbagai penyakit termasuk penyakit tidak menular (hipertensi, diabetes, jantung, dan lain-lain), dan sulit berprestasi sehingga daya saing individu rendah.
  • Sedangkan dampak stunting bagi masyarakat atau negara antara lain menghambat pertumbuhan ekonomi, meningkatkan angka kemiskinan dan kesakitan sehingga beban negara meningkat, ketimpangan sosial, menurunkan daya saing dengan negara lain (era pasar bebas), dan sulit memanfaatkan bonus demografi.
  • Manfaat mencegah stunting yakni menurunkan tingkat kesakitan anak atau bayi, meningkatkan kapasitas belajar, kapasitas bekerja, kapasitas produktivitas, dan meningkatkan generasi yang siap bersaing.Harus ada upaya perbaikan kualitas sumber daya manusia.
  • Forum Lintas Agama telah melakukan berbagai upaya untuk mencegah stunting antara lain pengarusutamaan stunting dalam arahan kebijakan, program dan jejaring dalam organisasi, melakukan penyusunan pedoman keagamaan dan stunting serta pelatihan para tokoh agama dan kader, penyampaian pesan stunting dalam forum keagamaan dan kemasyarakatan, memasukkan stuntingdalam kurikulum sekolah yang dikelola oleh organisasi, dan melakukan kerja bersama dengan advokasi dalam penyusunan desain dan modul bimbingan calon pengantin bersama Kementerian Agama.
  • Kami berupaya memberikan pesan-pesan positif kepada masyarakat dalam usaha mengurangi stunting. Semua anak-anak kita adalah tumpuan bangsa. Saya tidak mau bonus demografi menjadi beban negara
  • Anak-anak harus diberikan makanan yang tidak hanya bergizi tetapi juga berkualitas. Dalam konsultasi di gereja, vihara, pura, dan lain-lain kami titipkan materi mengenai isu stunting.
  • Dalam rangka mencegah stunting, Forum Lintas Agama meminta Komisi 5 DPR RI untuk mendukung upaya meningkatkan kualitas generasi penerus dan sumber daya manusia Indonesia dengan:
  1. Mendorong pemerintah untuk menetapkan stunting (gizi dan sanitasi) sebagai bidang prioritas pembangunan sampai tingkat desa secara berkelanjutan.
  2. Mendorong pemerintah mengembangkan pedoman penyelenggaraan dan pembiayaan program pencegahan stunting yang akurat dan efektif dengan berkonsultasi pada pemangku kepentingan di bidang gizi, sanitasi, dan kesehatan masyarakat.
  3. Mendorong pemerintah untuk mengimplementasikan sistem peringatan dini di komunitas terkait pencegahan stunting dan gizi buruk melalui sistem informasi desa.
  4. Mendorong pemerintah melakukan akselerasi dan memperluas implementasi program akses universal air minum dan sanitasi yang layak bagi 100% rakyat Indonesia, melalui program Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat(PAMSIMAS) dan Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM).
  • Semoga pemaparan yang telah disampaikan bisa menjadi masukan yang baik.

Pemantauan Rapat

Berikut respon anggota terhadap pemaparan mitra:

Fraksi Gerindra: Fary Djemi Francis dari NTT 2. Fary mengatakan, mestinya setiap desa bisa menemukan isu yang paling penting di desa. Data bisa dicari dan didapatkan. Kalau berkaca pada data internasional mengenai stunting, maka ditemukan persentase yang lebih tinggi yakni 37-40%. Seharusnya ada program-program Kementerian dalam kaitannya dengan mengatasi stunting. Fary mengatakan pihaknya melakukan diskusi dan tatap muka dengan para tokoh agama berkaitan dengan partisipasi para tokoh lintas agama dalam pencegahan stunting. Ternyata, para tokoh agama tidak banyak dilibatkan dalam isu kesehatan, kalau pun dilibatkan namun hanya pimpin doa.

Fary mengatakan persentase gizi buruk di wilayah NTT 2 lumayan tinggi. Lantas ia mendorong Menteri Desa membuat Memorandum of Understanding (MoU) dengan Sinode Gereja dan tokoh lintas agama lainnya sehingga benar-benar bisa dilibatkan. Kalau para tokoh agama tidak mau, maka uang yang sudah dialokasikan untuk di desa terkait gizi buruk bisa dimanfaatkan oknum. Fary mengakui jika dirinya merupakan ketua Sinode Gereja yang berasal dari kalangan awam. Fary mendorong dilakukannya MoU supaya ada hal-hal tertentu yang bisa dijangkau dan ada program-program yang bisa direplikasi guna penanganan isu ini.

Fary meminta maaf karena minggu lalu Komisi 5 DPR RI, terkhusus dirinya sedikit keras dengan Kementerian Desa saat rapat. Hal itu lantaran dirinya tidak terlalu setuju dengan empat program utama yang terkesan terlalu fokus dengan infrastruktur. Meski demikian, Komisi 5 DPR RI memberikan apresiasi kepada Kementerian Desa. Tahun lalu, Komisi 5 DPR RI memberi penilaian B kepada Kementerian Desa.

Fary meminta supaya tokoh-tokoh agama didorong untuk terlibat, tidak hanya berkata-kata di mimbar tapi juga bisa memperhatikan isu-isu kesehatan. Hal itu diperlukan supaya dana desa yang ada bisa dimaksimalkan penggunaannya.Fary memohon maaf jika ada hal yang kurang berkenan dan rapat menjadi tidak tepat waktu karena adanya perubahan jadwal.

Respon Mitra

Berikut merupakan tanggapan Fatayat Nahdlatul Ulama terhadap respon anggota:

  • Saya hanya mau menyambung tentang data stunting yang sangat senjang antara kota dan desa. Kalau tadi dikatakan data nasional dan internasional, sebenarnya semua merupakan data nasional yang diperoleh dari hasil riset kesehatan dasar sebesar 37%, sedangkan data Pemantauan Status Gizi(PSG) sebesar 30%. Ada kesenjangan waktu di sana, sehingga hasil persentasenya pun mengalami perbedaan.
  • Sebagian masalah kekurangan gizi adanya di desa, maka pencegahan stunting harus fokus di desa. Meskipun masalah stunting di kota mencapai 32%, jika menurut WHO apabila persentase di atas 20% masih merupakan masalah masyarakat.
  • Kami bertemu dengan semua kementerian untuk bisa menghasilkan kebijakan yang tepat.
  • Apapun upaya yang dilakukan, jika tidak dibarengi dengan perhatian terhadap asupan gizi yang diterima anak, maka stunting tidak akan berkurang.
  • Pada keluarga kaya pun, persentase stunting masih tinggi. Hal ini disebabkan ada praktik pemberian makan atau pola asuh dan pola makan yang jelek sekali dan tidak telaten. Apalagi pada usia setelah 6 bulan. Padahal usia setelah 6 bulan adalah usia yang sangat perlu diberikan asupan gizi dari makanan2 yang baik.
  • Kementerian Desa ada mengusulkan buku saku desa guna menekan isu stunting. Maka kalau nanti Kementerian Desa bertemu dengan Komisi 5 DPR RI, kami mohon agar ini bisa dibantu untuk mempekuat.

Berikut merupakan tanggapan Pelkesi terhadap respon anggota:

  • Semua kementerian saat ini didorong untuk fokus pada 1000 desa. Kemarin kami ikut dalam peringatan gizi nasional. Kalau memang benar-benar ada koordinasi yang baik maka pencegahan stunting akan berjalan baik.
  • Saya senang ketika mendengar pak Fary Djemi Francis dari NTT 2 melakukan monitoring. Kalau di organisasi kami sudah dibuat buku Pendalaman Alkitab yang bisa digunakan untuk memberi edukasi terhadap pencegahan stunting.

Penutup

RDPU ditutup Fary Djemi Francis dari NTT 2 pukul 12:18 WIB.

Untuk membaca rangkaian livetweetAngka Stunting di Indonesia - RDPU Komisi 5 DPR RI dengan Forum Lintas Agama tentang Krisis Gizi pada Anak silakan kunjungi https://chirpstory.com/li/382424.

Wikidpr/ncm/aps

Ilustrasi: youtube.com