Skip to main content
WikiDPR.orgMendekatkan Rakyat dengan Wakilnya

Tantangan yang dihadapi Industri Hasil Tembakau - Banggar Audiensi dengan Gaprindo

Komisi/AKD: Badan Anggaran, Tanggal Rapat: 11/Sep/2017,  Ditulis Tanggal: 22/Sep/2017

Mitra Kerja: Gaprindo Tantangan yang dihadapi Industri Hasil Tembakau - Banggar Audiensi dengan Gaprindo

Pada 11 September 2017, Banggar mengadakan Audiensi dengan Gabungan Produsen Rokok Putih Indonesia (Gaprindo). Rapat dibuka oleh Azis Syamsuddin dari Fraksi Golkar dapil Lampung 2. Rapat dimulai pukul 11:23 WIB. Agenda rapat mengenai Audiensi terkait tantangan yang dihadapi Industri Hasil Tembakau.

 

Pemaparan Mitra

Berikut merupakan pemaparan mitra:

GAPRINDO

  • Industri hasil tembakau beberapa tahun ini tidak bergerak bahkan menurun diantaranya karena daya beli turun dan naiknya cukai.
  • Tekanan terhadap industri ini makin hari makin berat.
  • Industri ini tekanan masih berat dan regulasi pusat dan daerah juga makin berat.
  • Kendala yang kami terima beberapa tahun pada 2016 penurunan volume produksi turun 2%.
  • Pada 2017 kami perkirakan industri ini akan turun 3% atau menjadi 330 milyar batang.
  • Gaprindo berharap agar Bapak/Ibu bisa menghimbau Kemenkeu agar kenaikan cukai tahun depan tidak melebihi target.
  • Gaprindo memohon agar cukai tidak dinaikkan kembali sesuai target pemerintah.
  • Dalam 3 tahun terakhir kenaikan rokok ilegal dari 8% sekarang menjadi 14%.
  • Kalau kenaikan tarif cukai tidak diperhitungkan akan menambah banyaknya rokok ilegal.
  • Di Indonesia cukai rokok 97% dari cukai penerimaan negara. Cukai penerimaan terbesar ke-3 setelah PPh dan PPn.
  • Garprindo harap ada cukai jangka menengah yang akan memudahkan kepastian bagi Gaprindo.
  • Yang Garprindo mohon kenaikan cukai yang selama ini 10% kami harap menjadi 4,8% sama dengan penerimaan negara dari cukai.

 

Pemantauan Rapat

Berikut merupakan respon anggota terhadap pemaparan mitra:

Fraksi PDI-P: Wayan Kosterdari Bali. Menurut Wayan seharusnya rokok jangan mahal-mahal harganya. Wayan menanyakan yang dimaksudkan penurunan produksi itu di mananya.

Fraksi Golkar: John Kenedy Azis dari Sumatera Barat 2. John mengatakan masalah rokok dan industri rokok itu dilematis. Ada pihak-pihak yang anjurkan jangan merokok. Dari sisi tingkat populasi manusia John memperkirakan industri rokok tidak akan merokok. John sejak kelas 6 SD merokok tapi 10 tahun kemarin sudah tidak merokok. Turunnya produksi rokok apakah karena tingginya cukai, rokok ilegal, banyaknya orang tidak merokok? Istri John juga merokok jadi agak sulit bagi John untuk berhenti tapi kata dokter harus berhenti. Orang kalau sudah candu apapun dibeli. Gak makan gapapa yang penting rokok.

Oleh Endang Srikarti Handayani dari Jawa Tengah 5. Endang menegaskan bahwa pabrik rokok memang mendatangkan devisa besar. Tenaga kerja 6 juta. Endang mendengar bahwa sekarang sudah impor tembakau dari China? Endang menjadi anggota DPR karena tani tembakau pilih Endang. Tidak ada UU Pertembakauan. Banyak sekali yang ingin rokok ditiadakan. Pabrik rokok tetap kita dukung karena mendatangkan devisa. Endang menghimbau Gaprindo gunakan produksi lokal untuk membina para petani tembakau. Harus nomor satukan tembakau lokal walaupun ada impor. Kalau Gaprindo tidak berpihak pada petani lokal akan berdampak negatif ke depan. Cukai ke depan yang diinginkan 4,8% kok jauh dari 10%? Apakah Gaprindo akan menaikkan harga rokok jadi Rp50.000. Belum ada riset orang merokok mati, yang ada merokok terus sakit. Di Temanggung ada Srintil mohon Bapak bina.

Oleh Azis Syamsuddin dari Lampung 2. Azis menyampaikan bahwa prediksi di RAPBN 2018 penerimaan cukai 148,230 kenaikan maksimal 0,5%. Kekhawatiran Bapak/Ibu sudah terjawab agar kenaikan tidak lebih 4,8% sudah terjawab. Menurut tatib 266, jam12:00 WIB harusnya kami hentikan. Kenaikan tidak 4,8% tapi hanya 0,5%. Catatan akan menjadi pembahasan panja RAPBN 2018.

Fraksi PKS: Andi Akmal Pasluddindari Sulawesi Selatan 2. Menurut Andi fungsi cukai bukan untuk mendatangkan penerimaan negara tapi pengendalian produksi. Kenaikan cukai hanya 0,5% dibandingkan APBNP 2017. Andi sepakat di daerah ada pabrik rokok putih yang tidak terdaftar (tidak resmi).

 

Respons Mitra

Berikut adalah respons mitra terhadap pemantauan rapat:

  • Anggota Gaprindo ada 7 perusahaan. Ada Japan, Sumatera Tobbaco, Sampoerna. Kalo Djarum itu Gapri
  • Betul kenaikan dari APBNP 2017 hanya 0,5% karena ada PMK penerimaan cukai hanya 11 bulan
  • Volume penerimaan produksi 11,5 bulan bukan 12% maka kenaikan bukan 0,5 tapi 4,8%
  • Kalau tarif 12 bulan maka kenaikan 0,5% tapi karena 11,5 bulan jadi 4,8%

 

Kesimpulan Rapat

Rapat ini tidak menghasilkan kesimpulan.

 

Penutup

Audiensi Banggar DPR-RI dengan Gabungan Produsen Rokok Putih (Gaprindo) ditutup pukul  12:07 WIB oleh Azis Syamsuddin dari Fraksi Partai Golkar dapil Lampung 2.

Untuk membaca livetweet Audiensi Banggar dengan Gabungan Produsen Rokok Putih (Gaprindo) mengenai tantangan yang dihadapi Industri Hasil Tembakau kunjungi https://chirpstory.com/li/368983 

 

wikidpr/dna/rhs

Ilustrasi: bisnis.liputan6.com