Follow us:   
Kontak kami:    kontak@wikidpr.org
Follow us:   
Kontak kami:    kontak@wikidpr.org
Gerindra - Sumatera Utara I
Komisi III - Hukum, HAM, Keamanan
     


Informasi Pribadi

Tempat Lahir
Medan
Tanggal Lahir
21/10/1959
Alamat Rumah
No Telp

Informasi Jabatan

Partai
Gerindra
Dapil
Sumatera Utara I
Komisi
III - Hukum, HAM, Keamanan

Latar Belakang

H.R. Muhammad Syafi'i terpilih menjadi Anggota DPR-RI periode 2014-2019 dari Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) mewakili Dapil Sumatera Utara I setelah memperoleh 46.438 suara. Syafi'i adalah politisi dan legislator senior di Sumatera Utara. Syafi'i adalah mantan Anggota DPRD Kota Medan (1997-1999) dan Ketua Fraksi Partai Bintang Reformasi DPRD Provinsi Sumatera Utara (2004-2009).  Di Gerindra, Syafi'i adalah Anggota Dewan Penasehat DPP Gerindra (2012-2017).  

Muhammad Syafi'i adalah seorang pendidik, penceramah dan pendakwah. Syafi'i pernah menjadi guru di banyak lembaga perguruan di Medan, Penatar Program BP-7 di Sumatera Utara (1990-1995) dan dosen di Universitas Sisingamangaraja (1999-2000).  Syafi'i adalah Ketua Yayasan Kasyful Fikri, yang aktif sebagai penyalur beasiswa (1997-sekarang).

Di masa kerja 2014-2019 Muhammad Syafi'i bertugas di Komisi VIII yang membidangi agama, sosial dan pemberdayaan perempuan. Namun, ia pindah bertugas di Komisi III sejak November 2015.

Di April 2016, Syafi'i terpilih menjadi Ketua Panitia Khusus (Pansus) Revisi UU Terorisme.  [sumber

Pendidikan

SLTA, SMA Joshua, Medan (1979)

S1, Hukum, Universitas Sumatera Utara, Medan (1988)

S2, Magister Hukum, Universitas Sumatera Utara, Medan (2007)

Perjalanan Politik

Sejak di bangku kuliah Muhammad Syafi'i sudah menjadi kader dari Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Di 1978, Syafi'i menjadi Ketua Ranting PPP Kelurahan Tegal Rejo di Medan (1978-1985). Syafi'i aktif berorganisasi di PPP sampai dengan dipercaya menjadi Wakil Ketua Dewan Pimpinan Cabang (DPC) PPP Kota Medan (1995-2000). Di 1997 Syafi'i terpilih menjadi Anggota DPRD Kota Medan (1997-1999).

Di 2001 Muhammad Syafi'i bergabung dengan Partai Bintang Reformasi (PBR) dan menjadi Ketua Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) PBR Sumatera Utara (2002-2006).  

Pada Pileg 2004, Syafi'i terpilih menjadi Anggota DPRD Provinsi Sumatera Utara dan menjabat sebagai Ketua Fraksi PBR (2004-2009). Di 2006 karir politik Syafi'i semakin menanjak.  Syafi'i diberi tanggung jawab menjadi Wakil Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat (DPP) PBR (2006-2011). Syafi'i juga menjadi Komisi Perundang-undangan di Majelis Ulama Indonesia (MUI) periode 2006-2011.

Pada Pileg 2009 PBR tidak memenuhi batas minimum dan setelah itu melebur dengan Partai Amanat Nasional (PAN) di 2011. Syafi'i memutuskan untuk bergabung dengan Gerindra di 2012. Di Gerindra Syafi'i diminta menjadi Anggota Dewan Penasehat DPP Gerindra (2012-2017).

Pada Pileg 2014 Syafi'i maju mencalonkan diri menjadi calon legislatif.  Syafi'i terpilih menjadi Anggota DPR-RI periode 2014-2019 dan duduk di Komisi VIII yang membidangi agama, sosial dan pemberdayaan perempuan. Di November 2015 terjadi mutasi di Fraksi Gerindra dan Syafi'i pindah bertugas di Komisi 3 yang membidangi hukum, hak asasi manusia dan kepolisian.  Di April 2016, Syafi'i dipercaya menjadi Ketua Panitia Khusus (Pansus) Revisi UU Terorisme.

Visi & Misi

belum ada

Program Kerja

belum ada

Sikap Politik

Tanggapan Terhadap RUU

Calon Hakim Agung Kamar Perdata dan Kamar Agama

11 Juli 2018 - Dalam Rapat Pleno Komisi 3 DPR-RI, Syafi’i mengatakan bahwa dengan kebutuhan hakim agung oleh Mahkamah AgungFraksi Gerindra berpendapat bisa menerima Abdul Manaf di kamar agama, dan Pri Pambudi di kamar perdata. [sumber]

RUU Anti Terorisme - Laporan Ketua Panja dan Pembahasan Tingkat 1

24 Mei 2018 - Sebagai pemimpin dalam rapat kerja Pansus RUU Terorisme  dengan Menkumham, Syafi’i atau yang biasa dipanggil Romo memaparkan agenda rapat, diantaranya yaitu laporan Panja ke Pansus, pembacaan naskah RUU Terorisme, pendapat akhir mini Fraksi, pengambilan keputusan, sambutan pemerintah, dan penandatanganan naskah. M. Syafi’i mengucapkan terima kasih atas kehadiran seluruh pihak, menurutnya ini adalah bagian untuk menjalankan tugas kepada bangsa dalam memberikan pengaturan terkait terorisme. Dengan telah selesainya RUU Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme, menurut M. Syafi’i adalah kerja yang luar biasa untuk bangsa dan negara apalagi akhir-akhir ini terorisme terjadi di mana-mana. Ia berharap dengan UU Terorisme dapat digunakan oleh aparat dalam meningkatkan kinerjanya, sehingga aksi terorisme dikemudian hari bisa diatasi. M. Syafi’i mengucapkan turut berbelasungkawa kepada para korban dari aksi teror yang telah terjadi. Selanjutnya M. Syafi’i mempersilakan Ketua Panja, Supiadin untuk membacakan laporan Panja kepada Pansus.Terkait agenda penyampaian pendapat akhir mini Fraksi, M. Syafi’i menganjurkan agar di dalamnya termasuk pilihan alternatif definisi terorisme dari dua alternatif yang ada, yang sebelumya telah disetujui. M. Syafi’i mengungkapkan bahwa suasana yang terbangun selama pembahasan begitu baik, pada RUU baru telah berhasil memasukkan norma baru atau juga mengubah yang sudah ada. Ia juga menyiggung soal definisi yang sukses mencapai kesepakatan tanpa voting. Sebelum mengetuk palu, M. Syafi’i mengomentari tentang pelibatan TNI bahwa sudah ada diskusi dan Panglima TNI menyampaikan pendapat yang sama dengan rujukan pelibatan pada Undang-undang No. 3 Tahun 2002. Pada akhir sidang, selaku pemimpin rapat dan Ketua Pansus M. Syafi’i mengesahkan keputusan sidang bahwa menyetujui RUU Terorisme ini disahkan menjadi UU dan akan disampaikan pada tahapan tingkat II pada Paripurna. [sumber]

RUU Anti Terorisme - Definisi Terorisme

23 Mei 2018 - Dalam rapat Panja RUU Terorisme dengan Tim Pemerintah; Prof. Enny Nurbaningsih, Prof. Muladi, Anita Dewayani (JPU), Syafi’i mengatakan bahwa pada rapat sebelumnya, ada poin penting yaitu dimasukkannya frasa ideologi, politik dan ancaman keamanan negara, itulah ending pertemuan rapatsebelum reses. Ia dan anggota lain berpendapat seperti itu karen harus ada pembeda degan tindakan terorisme, Syafi’i mencontohkan misal ada yang melakukan pemukulan dengan tetangganya sampai luka-luka, menurutnya itu bukan terorisme, karena tidak ada ancaman terhadap negara. Syafi’i berpendapat bahwa dalam pasal yang sudah diputuskan, seseorang yang dipastikan terlibat jaringan teroris, menghasut orang melakukan tindak terorisme ini bisa ditangkap, karen ada motif, jaringan dan tujuan, ini ancaman awal keamanan negara. Semua sepakat, satu kata menempatkan frasa "motif politik, ideologi dan keamanan negara", dan memang itulah yang membedakan terorisme dan kriminal biasa, tegas Syafi’i. Terkait batasan pengertian singkatan, menurut Syafi’i harus dirumuskan lengkap dan jelas sehingga tidak menimbulkan pengertian ganda. Jadi karena definisi letaknya di bab 1 maka tidak akan melawan peraturan Perundangan, ada frasa yang dipotong yang dimuat di penjelasan, Syafi’i setuju saja apakah kumulatif atau alternatif, yang pasti ia mengajak pertanggungjawaban ke publik. Syafi’i menghormati semua pendapat yang berkembang, kalau ada yang menganggap usulan definisi itu melanggar, sebagai Ketua Pansus Syafi’i mengatakan bahwa DPR menerima usulan dari seluruh pihak, sehingga itu sah-sah saja dan tidak ada hukum yang dilanggar. Menanggapi pernyataan Prof. Enny yang mengatakan pemerintah sudah satu suara semua, Syafi’i menceritakan dirinya bertemu dengan Kapolri beberapa hari sebelumnya, soal frasa, Kapolri masih berpendapat sama sesuai dengan surat yang berisi definisi. Syafi’i meminta agar Kapolri didatangkan ke DPR. Syafi’I juga mengomentari pernyataan Wenny Warrow, Syafi’i membantah jika dikatakan definisi yang lalu tidak ada masalah, yang menurutnya ada masalah. Ia meminta Wenny agar tidak menjadikan itu sebagai bahan referensi karena frasa yang diusulkan tujuannya adalah sebagai pembeda. Syafi’i berharap agar RUU Terorisme dapat melindungi segenap bangsa, bukan melindungi pihak-pihak tertentu saja. Jadi kapan menentukan teroris atau bukan, kalau tidak dijelaskan di definisi, tambah Syafi’i. Maka menurutnya definisi harus jelas dalam memberikan batasan. Ia memberikan contoh kalau orang sudah ditangkap karena melakukan kejahatan tapi tidak ada motif tersebut maka tetap masuk kejahatan biasa, tidak lepas begitu saja. [sumber]

RUU Anti Terorisme - Pasal 36 A dan Pasal 36 B

28 September 2017 - Pada Panja RUU Terorisme dengan Tim Pemerintah, Syafi’i membahas mengenai masalah sampai tingkat Mahkamah Agung (MA) dan korban yang perlu disegerakan. Syafi’i menjelaskan bahwa terdapat kasus kompensasi yang di pengadilan tingkat pertama yang harus dibayar namun di tingkat banding hilang. M. Syafi’i juga membahas mengenai kasus yang sudah pernah terjadi seperti kasus Tanjung Priuk. M. Syafi’i berpikiran akan menarik ketika sampai ikrah ternyata terakwa dinyatakan bebas tidak bersalah. M. Syafi’i sepakat bahwa korban adalah tanggung jawab negara. M. Syafi’i meminta agar tidak debatable untuk segera diukur kerugiannya. M. Syafi’i menyetujui Pasal 36 ayat (6). M. Syafi’i menanyakan jika Pasal 36 ayat (7) dijadikan ayat (8). M. Syafi’i menyetujui Pasal 36A ayat (2) disetujui. Pasal 36B disetujui yaitu berbunyi ketentuan mengenai tata cara penentuan jumlah kerugian, dan pemberian kompensasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 36 dan restitusi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 36A diatur dengan Peraturan Pemerintah. M. Syafi’i membahas mengenai menjadi tersangka yang harus diperlakukan manusiawi dan tidak direndahkan martabatnya. M. Syafi’i menambahkan apa yang disampaikan pada rapat ini bukan merupakan keinginan dari panja namun keinginan rakyat. M. Syafi’i menyetujui Pasal yang dihapus. [sumber

RUU Anti Terorisme - Pembahasan Pasal 32, 33, 34 

26 Juli 2017 - Dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) Panitia Kerja (Panja) Revisi Undang-undang (RUU) Terorisme DPR-RI dengan Tim Pemerintah, Syafi’i menanyakan terkait perubahan kata “atau” menjadi “serta” dalam Pasal 31 B, apakah lebih baik disatukan dalam pasal ini, atau dimasukkan di sanksi pidana. Ia mengatakan hal itu memerlukan kesepakatan. Menurutnya, intinya adalah merapikan pertanggungjawaban. Syafi’i berpendapat harus dibuat juga normanya supaya menjadi jelas. Jika sudah ada bukti permulaan, menurutnya lebih baik izin terlebih dahulu, karena mengikuti alur hukum dan menghormati hak asasi. Dalam perlindungan HAM, ia mengatakan ingin teroris ini bisa kita cegah dengan tidak melanggar hak asasi. Syafi’i mengkhawatirkan Pasal 31 A ini lepas dari keamanan terhadap pelanggaran HAM. Menurut Syafi’i, Pasal 31 A ini tidak perlu, tetapi harus izin dulu. Mengenai pencegahan memang perlu, kemudian ia menambahkan pertanyaan apakah hal itu harus disatukan dengan penyadapan ini. Pasal 31 A disetujui, frasa "keadaan mendesak" harus diberi penjelasan, dengan mengacu pada KUHAP. Pasal 32 ayat (1), ditambah kata-kata "didengar". [sumber]

RUU Anti Terorisme

31 Mei 2017 - Syafi'i berpendapat bahwa diperlukan mekanisme pengawasan dan perpanjangan yang jelas. Syafi'i mengatakan bahwa dari naskah RUU yang diajukan Pemerintah. Pemerintah menginginkan UU ini menjangkau semua aspek untuk masa yang akan datang.   [sumber]

RUU KUHP (Kitab Undang-Undang Hukum Pidana)

30 Mei 2017 - Syafii berpendapat bahwa sebelumnya sudah ada kesepakatan bahwa KUHP ini adalah konstitusinya, dan bahwa core crime-nya tidak dikeluarkan dalam batang tubuh hukum pidana.   [sumber]

RUU Larangan Minuman Beralkohol (RUU Minol)

3 Februari 2016 - Menurut Syafi'i, RUU Minol lebih mengerikan bila tidak segera disahkan karena banyak tindak kriminal berawal dari minol. Syafi'i tertarik dengan konversi pidana ke hukum denda seperti yang disarankan Kabareskrim. Syafi'i menambahkan, harus ada seleksi ketat dalam RUU Minol dalam rancangan hukum negeri ini. Selain itu, peran serta masyarakat dirasa menjadi masukan yang sangat bagus untuk RUU Minol.

Syafi'i meminta konfirmasi Bareskrim atas kabar yang didengarnya tentang pihak yang membimbing anak muda di Sulawesi Tenggara untuk minum minuman beralkohol. Menjawab pertanyaan Kabareskrim mengenai penyidik, menurut Syafi'i penyidik tetap dari Kepolisian.  [sumber]

Tanggapan

LGBT Dalam RKUHP dan Usul Pembentukan Pansus Penyelenggara Umroh Bermasalah

3 April 2018 - Pada Rapat Dengar Pendapat Umum dengan Ikatan Cendekiwan Muslim Indonesia (ICMI) dan Kuasa Hukum Korban First Travel Syafii berpendapat LGBT menghancurkan sendi-sendi moral & keagamaan, karena tidak ada satupun budaya, agama yang mendukung itu. Syafii kembali berpendapat bahwa LGBT juga akan menghancurkan peradaban karena tidak mampu berkembang biak, pungkasnya. Syafii mencontohkan desa di Italia, pesta 7 hari 7 malam karena ada kelahiran bayi, di sana LGBT-nya sukses, sementara Indonesia menolak LGBT. Syafii usul untuk membentuk Panja atau Pansus dalam mengusut tuntas masalah tersebut dan mencarikan solusi serta menata pemberian izin travel-travel umroh di masa yang akan datang. Syafii mengusulkan agar pendaftaran online sehingga bisa terdeteksi oleh Kemenag. [sumber]

Revisi RUU Terorisme terkait Masa Penangkapan dan Penahanan

5 April 2017Syafi’i menanyakan penangkapan terduga terorisme yang paling sederhana itu berapa hari. Menurutnya harus disepakati minimalnya dulu, kalau 7 tidak cukup berarti bisa diperpanjangtetapi jangan ujuk-ujuk 30 hari, misalnya 10 atau 14, lalu maksimalnya berapa, tanya Syafi’i. Kalau itu diperpanjang memang harus ada alasan untuk memperpanjang, menurutnya jangan mengabaikan kepentingan penyidik. Ada hal-hal yang sebenarnya bisa sederhana penahanannya. Menurut Syafi’i, usulan Pak Wenny agar kesulitan di lapangan menurutnya bisa diatasi, dan hak-hak korban bisa terlindungi. Data yang masuk, Syafi’i mengatakan puluhan korban yang belum sampai selesai penahanan sudah remuk. [sumber]

Perseteruan FPI dan GMBI di Jawa Barat

17 Januari 2017 - Menurut Syafi’i, apa yang Habib Rizieq sampaikan bukanlah sesuatu yang baru. Syafi’i mengatakan tidak dekat dengan FPI tetapi karena yang diperjuangkan oleh FPI adalah kebenaran, maka Komisi 3 menjadi dekat. [sumber]

Perlindungan Anak dalam Buku II RUU KUHP

16 Januari 2017 - Syafi'i menyatakan bahwa dukungan kapoksi Demokrat minimal pidana 13 tahun atas dasar anak SD itu sangat lemah. M. Syafi’i juga membantah apabila anak berusia 7 tahun dikatakan belum bisa baca tulis. Maka M. Syafi’i menyarankan agar sebaiknya dinaikkan menjadi 12 tahun apabila dilihat dari keadaan psikologis anak SMP yang masih lemah. M. Syafi’i berpendapat bahwa menelantarkan adalah sebuah kondisi dimana seseorang menyerahkan anaknya kepada orang yang tidak waras. M. Syafi’i mempertanyakan apa yang dimaksud dengan melindungi kepentingan umum. M. Syafi’i mengusulkan untuk di-pending apabila belum jelas pengungkapannya. M. Syafi’i menegaskan jangan sampai pencemaran nama baik termasuk ke dalam ghibah. Harus dipahami terlebih dahulu untuk kepentingan umum atau terpaksa. Kemudian M. Syafi’i mempertanyakan jika seseorang hanya tahu sedikit mengenai suatu info, tidak tahu secara keseluruhan, apakah termasuk ke dalam fitnah. [sumber]

Mendorong KAPOLRI untuk Memberhentikan KAPOLDA DKI Jakarta

16 Januari 2017 - (JITUNEWS.COM) - Ditengah ramainya desakan agar Kapolri Jendral Tito Karnavian untuk mencopot Kapolda Jawa Barat, Irjen Pol Anton Charliyan, ternyata ada beberapa pihak yang meminta agar Kapolri juga mencopot Kapolda DKI Jakarta, Irjen Mochamad Iriawan.

Anggota Komisi III DPR RI, Muhammad Syafi'i menilai  Mochamad Iriawan adalah sosok kapolda yang tidak memahami Undang-Undang, sehingga sudah selayaknya Kapolri memberhentikan yang bersangkutan dari jabatannya sebagai Kapolda DKI Jakarta. 

"Kapolda Metro Jaya ini juga nggak pantes jadi Kapolda, ini kan preman juga. Kapolda itu nggak paham UU. Copot itu Iwan Bule itu. Bahaya itu DKI," ujarnya di Gedung DPR RI Jakarta, Senin Sore (16/1).

Pria yang akrab disapa Romo ini mengungkapkan bahwa Kapolda Metro Jaya tidak punya dasar hukum yang jelas dalam menangkap kedelapan tokoh beberapa waktu yang lalu. Dimana delapan tokoh itu diduga telah melakukan upaya pemufakatan jahat untuk menggulingkan pemerintahan yang sah alias makar 

"Rapat-rapat dibilang makar, itu paranoid. Pertanyaannya proses hukum itu udah bener gak? Sebenernya itu emang belum pantes diproses hukum, wong dasarnya nggak jelas. Masa Rachmawati dituduh makar. Makar itu nggak mungkin tanpa senjata. Berarti ini ada tuduhan," tuturnya.

Politisi Partai Gerindra menjelaskan DPR harus segera membentuk Pansus Makar, agar kasus penangkapan beberapa tokoh yang salah satunya melibatkan Rachmawati Soekarnoputri menjadi terang benderang.

"Kalau emang Kapolri nggak segera mencopot Kapolda DKI Jakarta, emang perlu pansus dibentuk. Ini kan bisa fitnah, betul nggak ini makar. Kita buktikan, kalau nggak terbukti dia (Mochamad Iriawan) bisa kena pidana, yang menuduh itu. Bisa kena pidana dia menuduh orang makar nggak bisa dibuktikan," tutupnya.  [sumber]

Penilaian atas Kinerja Pemerintahan Presiden Joko Widodo - Wakil Presiden Jusuf Kalla

17 Oktober 2016 - (JITUNEWS.COM) - Anggota Komisi III DPR RI Muhammad Syafi'i menilai, selama dua tahun pemerintahan Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla banyak program yang tidak berjalan baik dan sesuai dengan harapan masyarakat Indonesia.

"Sekarang kita mau melihat kepemimpinan Jokowi dari sisi apa? Sisi penegakan hukum, kita lihat banyak kasus-kasus besar yang prioritas tidak tersentuh sama sekali, misal kasus BLBI, Bank Century, kasus Transjakarta, kasus Sumber waras, reklamasi dan sebagainya. Seperti doa saya waktu itu, hukum kita cuma tajam ke bawah, tapi tumpul ke atas," ujarnya di Gedung DPR RI Jakarta, Senin (17/10).

Pria yang akrab disapa Romo ini juga menilai Pemerintahan Jokowi-JK belum dapat membenahi kesejahteraan masyarakat, karena sampai saat ini tingkat pengangguran terus meningkat, daya beli masyarakat kian hari kian menurun yang mengakibatkan banyak perusahaan-perusahaan yang berinvestasi di Indonesia hengkang.

"Saya tidak ingin dan tidak pernah sepakat kesejahteraan itu ditandai dengan pertumbuhan ekonomi sekian persen. Saya lebih cenderung mengatakan kesejahteraan itu terlihat dari daya beli masyarakat dan menurunnya tingkat pengangguran. Yang terjadi hari ini kan daya beli masyarakat semakin rendah," tuturnya.

Kemudian, dari sisi ketahanan pangan, pemerintahan Jokowi-JK dinilainya tidak memiliki kewibawaan untuk dapat menentukan atau mengendalikan harga pasar. Dia mencontohkan harga daging yang terus melonjak di bulan Ramadhan.

"Contoh waktu jelang puasa, Presiden berkomitmen harga daging tidak boleh lebih dari Rp 80 ribu per kilo. Sampai lebaran dan sekarang harganya Rp 100 ribu bahkan 130 ribu. Segi ketahanan pangan kita tidak melihat hasilnya," jelasnya.

Oleh karena itu, politisi Gerindra ini menjelaskan bahwa selama dua tahun pemerintahan Jokowi-JK sangat minus prestasi, dan dia menilai presiden Joko Widodo sudah layak diberhentikan dari jabatannya.

"Ponten Jokowi dua tahun pemerintahannya minus dan supaya Indonesia tidak tergadai oleh luar negeri, sudah saatnya diberhentikan jadi presiden" tutupnya.  [sumber]

Efektivitas Pengawasan Internal Kejaksaan Agung RI 

26 September 2016 - Pada Rapat Kerja Komisi 3 dengan Jaksa Agung, Syafi'i mengatakan bahwa pada putusan MK tahun 2012 tentang Standar Operasional Prosedur (SOP) penetapan kerugian negara, Jaksa Agung dijadikan akuntan publik. Terkait kasus korupsi Bank Bukopin, Syafi'i menanyakan apakah akuntan publik bisa dijadikan alat pengganti BPK RI. Terkait oknum kejaksaan di daerah, ia mengaku mengalaminya sendiri. Ia bercerita bahwa ada tuduhan dirinya menyembunyikan tersangka di rumahnya, padahal dalam satu hari saja ada banyak sekali yang berkunjung ke rumahnya. Tuduhan tersebut mengakibatkan terjadi penggerebekan di rumah Syafi'i oleh oknum kejaksaan. Syafi'i menilai kejadian tersebut merusak nama baiknya. Ia mengkritik bahwa rumah anggota DPR bisa diperlakukan dengan tidak sopan, apalagi rumah masyarakat biasa. Syafi'i mempertanyakan SOP penggerebekan dan tanggapan Jaksa Agung terhadap persoalan tersebut.  [sumber]

Fit & Proper Test Calon Kepala Polisi Republik Indonesia (KAPOLRI)

23 Juni 2016 - Syafi’i meminta tanggapan Calon Kepala Polisi (Cakapolri) tentang adanya anggapan masyarakat bahwa Densus 88 memberantas Islam. Syafi’I juga meminta penjelasan mengenai kinerja Polri dalam permasalahan PT Maritim Timur Jaya (PT MTJ) dan dalam Kasus Siyono. Selain itu, Syafi’i meminta klarifikasi terhadap tuduhan bahwa Cakapolri telah bertindak represif. Selanjutnya, Syafi’i memprotes predikat yang diraih Polda Aceh di Laporan Eksekutif Indeks.  [sumber]

Anggaran Kejaksaan Agung

13 Juni 2016 - Syafi’i melaporkan bahwa ada Kejaksaan Negeri (Kejari) yang meresahkan di dapilnya; tepatnya di Labuhan Batu. Lalu, Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) di dapilnya pun mengeluh terkait anggaran. Syafi’i mengkhawatirkan apakah ini menyangkut pemotongan anggaran di Kejaksaan Agung (Kejagung). Kemudian, ia pernah berdiskusi dengan beberapa ketua Pengadilan Negeri (PN) dan Kejari dan mereka mengusulkan untuk diskresi anggaran. Kasus kecil pun bisa dilakukan diskresi agar tak melalui proses yang panjang. Selanjutnya, Syafi’i berpendapat bahwa kasus narkoba menjadi salah satu penyebab over-capacity lapas di Indonesia.  [sumber]

Evaluasi Kinerja Komisi Kejaksaan Republik Indonesia (KKRI)

18 April 2016 - Syafi'i mengatakan, kalau KKRI harus kredibel untuk menjaga kualitas dari Kejaksaan. Syafi'i melanjutkan, apa yang menjadi visi tergantung dengan adanya laporan pengaduan masyarakat. Syafi'i melihat kalau KKRI bergerak hanya berdasarkan laporan masyarakat. Ia menarik kesimpulan, KKRI akan kehilangan pekerjaannya jika tidak ada yang melapor.  [sumber]

Laporan Masyarakat atas Kematian Siyono

12 April 2016 - Syafi’I menyampaikan bahwa yang terjadi di Papua menimbulkan ketakutan lalu penanganannya  berbeda. Syafi’I merumuskan bahwa ada tiga kejahatan yang harus diperangi, yaitu korupsi, narkoba, dan terorisme. Syafi’I menilai bahwa kasus korupsi dan narkoba, proses hukumnya lama sekali. Namun, terhadap terduga teroris, Pemerintah terkesan mudah sekali menembak mati. Merujuk pada data yang didapat, Syafi’I menuturkan sudah ada 121 ditembak. Menurut Syafi’i, masyarakat sangat mengapresiasi penanganan pelaku korupsi dan narkoba, tetapi tidak ada apresiasi masyarakat terhadap penanganan teroris.

Syafi’i berpendapat bahwa Kasus Siyono menjadi era baru penanganan terorisme di Indonesia karena ditangani oleh organisasi, seperti Muhammadiyah. Syafi’i meminta Pemerintah mendukung Komnas HAM dan KontraS untuk terus mengadvokasi kasus pelanggaran HAM. Syafi’i mempertanyakan anggaran Densus 88 untuk keluarga Siyono. Syafi’i curiga anggaran tersebut adalah usaha untuk menutup mulut. Jika definisi terorisme adalah menimbulkan rasa takut, menurut Syafi’i, maka Siyono bukan teroris karena tidak menimbulkan rasa takut kepada masyarakat. Syafi’I menambahkan, justru Densus 88 yang membuat masyarakat takut dan Densus 88 dinilai bisa menjadi teroris baru.  [sumber]

Evaluasi Kinerja Kepolisian Republik Indonesia

25 Januari 2016 - Dalam rapat bersama Kepala Polisi Republik Indonesia (Kapolri), Syafi'i melaporkan bahwa di dapilnya ada bandar narkoba, namun tidak bisa ditangani karena menurut polisi setempat, personilnya kurang. Di Sumatera Barat, akan ada pertemuan besar antara nelayan-nelayan karena masalah penangkapan yang lebih dari ZEE (Zona Ekonomi Eksklusif). Terkait dengan kasus di Papua, ia tidak melihat dalam laporan yang disampaikan oleh Kapolri.  [sumber]

Pengelolaan Haji dan Umroh

27 Agustus 2015  - Dalam Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) Komisi 8 dengan pakar Anggito Abimanyu, Syafi’i meminta dibuatkan bank haji untuk mengelola dana haji menggunakan sistem syariah. [sumber]

Pengelolaan Haji dan Panja Haji

26 Agustus 2015 - Dalam Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) Komisi 8 DPR-RI dengan Pengurus Pusat (PP) Muhammadiyah dan Persatuan Islam (Persis), Syafi’i mengungkapkan bahwa swastanisasi belum tentu berujung konsumerisme dan kapitalisme, bahkan ada yang bisa lebih murah 2.000 USD dan sudah mendapatkan semua pelayanan, sehingga Syafi’i meminta agar kita tidak perlu takut dengan swastanisasi. Hal itu tergantung mindset untuk melaksanakan UU atau melihat jamaah sebagai komoditas. Syafi’i mengatakan bahwa pemerintah memberikan syarat kepada jamaah untuk melakukan bimbingan ke Kelompok Bimbingan Ibadah Haji (KBIH) yang sudah mendapatkan izin dari pemerintah, sehingga dengan adanya sertifikasi bagi KBIH, tidak perlu khawatir mengenai dualisme kepercayaan kepada pembimbing. Syafi’i juga meminta kepada daerah yang tidak memiliki KBIH, agar mendorong Ormas agar dapat membentuk badan tersebut. [sumber]

Pengangkatan Tenaga Honorer di Kementerian Agama

26 Mei 2015 - Syafi’i ke Sekretaris jenderal Kementerian Agama (Sekjen Kemenag) untuk upayakan setoran Rp.25 juta tetap ada di rekening jama'ah sampai naik haji. Syafi'i menambahkan bahwa masih terjadi kalau ada jama'ah yang meninggal sebelum naik haji, dan bila terjadi maka setoran dapat dipotong Rp.2 juta untuk biaya administrasi.  [sumber]

Evaluasi Sistem Manajemen Resiko Penanggulangan Bencana

15 April 2015 - Berkaca pada bencana Gunung Sinabung, Syafi’i harap penguatan kapasitas masyarakat adat dan pemuka agama dalam mitigasi bencana.  [sumber]

Informasi Pribadi

Tempat Lahir
Medan
Tanggal Lahir
21/10/1959
Alamat Rumah
No Telp

Informasi Jabatan

Partai
Gerindra
Dapil
Sumatera Utara I
Komisi
III - Hukum, HAM, Keamanan