Follow us:   
Kontak kami:    kontak@wikidpr.org
Follow us:   
Kontak kami:    kontak@wikidpr.org
Gerindra - Jawa Tengah IX
Komisi VI - Perdagangan, Perindustrian, Koperasi UKM, BUMN, Investasi dan Standarisasi
  


Informasi Pribadi

Tempat Lahir
Jakarta
Tanggal Lahir
23/12/1976
Alamat Rumah
Jalan Sriwijaya Raya No. 12 A Rt. 003 Rw. 001 Kelurahan Selong, Kebayoran Baru, Kota Jakarta Selatan, DKI Jakarta
No Telp

Informasi Jabatan

Partai
Gerindra
Dapil
Jawa Tengah IX
Komisi
VI - Perdagangan, Perindustrian, Koperasi UKM, BUMN, Investasi dan Standarisasi

Latar Belakang

Mohamad Hekal lahir di Jakarta, 23 Desember 1976. Hekal berhasil menjadi Anggota DPR-RI periode 2019-2024 dari Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) setelah memperoleh 86.337 suara untuk Dapil Jawa Tengah IX. Hekal adalah seorang pengusaha dan memegang jabatan sebagai Komisaris Utama di PT Sitasa Timber (industri kayu) dan PT. Sitasa Energi (pertambangan).

Hekal adalah putra dari mantan Menteri Keuangan era Orde Baru, Fuad Bawazier. Pada periode ini, Hekal bertugas di Komisi VI yang membidangi perdagangan, perindustrian, investasi, koperasi dan BUMN.

Pendidikan

S1, Maryland University, Roberth Smith School of Business, Amerika Serikat

Perjalanan Politik

Mohamad Hekal belum pernah memiliki rekam jejak politik diluar keanggotaannya di Gerindra. Hekal tercatat sebagai komisaris utama PT Sitasa Timber dan PT Sitasa Energi.

Visi & Misi

belum ada

Program Kerja

belum ada

Sikap Politik

belum ada

Tanggapan

Kerjasama Perdagangan RI-Chile

6 Juni 2018 – Pada Raker dengan Menteri Perdagangan. Hekal meminta agar surplus neraca perdagangan dengan Chile jangan sampai menjadi beban. Hekal merasa penetrasi perdagangan Indonesia dengan negara-negara di Amerika Latin agak rendah karena letak geografisnya yang jauh, tetapi kita harus meningkatkan keuntungan dan perlu dilakukannya perluasan perdagangan, sehingga kita bisa set up agar anggota Komisi 6 lainnya yakin dengan perjanjian ini. Hekal menyampaikan secara prinsip perjanjian ini sudah bagus dan Hekal meminta agar Mendag dapat mempertahankan neraca perdagangan yang sudah surplus.Hekal mengungkapkan bahwa tidak terlalu concern dengan Crude Palm Oil (CPO), karena konsituennya tidak ada yang menanam kelapa sawit. [sumber].

Pertumbuhan Ekonomi BUMN tahun 2017

22 Januari 2018 - Dalam rapat dengar pendapat dengan Deputi Kementerian BUMN, Dirut Waskita, Dirut Hutama Karya, Dirut PP Perseor, Dirut Adhi Karya, Dirut WIjaya Karya, dan Jasa Marga, Hekal menyorot angka yang begitu besar yakni non interest bearing loan sehingga ingin tahu sebenarnya uang siapa dan dari mana hingga mencapai Rp20-30 Triliun. Menanggapi jawaban mitra bahwa secara umum angka tersebut unaccountable, Hekal menghubungkannya dengan kesulitan membayar karena angkanya mencapai Rp30 triliun kemudian menyimpulkan bahwa angka tersebut diperoleh dari subsidi oleh pihak swasta. Ia menyampaikan bahwa salah satu program partai penguasa yakni pembangunan infrastruktur yang kita semua tahu dana APBN-nya terbatas. Ia kemudian meminta kepada partai penguasa jangan terlalu banyak akrobatik karena sudah semakin luar biasa akrobatiknya maka resiko kecelakaannya semakin tinggi. Akrobatik bentuknya ada banyak salah satunya ada asset backed securities Ia meminta data berapa jumlah aset yang telah tergadaikan dan data tersebut disajikan oleh seluruh BUMN yang terlibat dalam proyek infrastruktur karena kita semua tahu dana APBN tidak dapat menopang sehingga BUMN-BUMN diminta unutk menaikkan life average laverage yang dipandang oleh pihak luar ini sudah sampai pada titik yang membahayakan untuk itu Hekal meminta Deputi BUMN menggerakkan jajaran-jajarannya untuk mencari tahu benarkah sudah pada titik yang membahayakan atau tidak. Karena setelah asset backed securites tidak sanggup, utang-utang kepada bank-bank tidak sanggup, akhirnya muncul wacana untuk menjual anak-anak perusahaan dan tol.

Hekal ingin tahu berapa tol yang ingin dijual termasuk tol Jasa Marga, dan tolnya Pak Chalid mau dijual padahal dibangun saja belum baru dibeli tapi sudah mau dijual. Selain itu menurutnya asset backed securities kan gadai jadi ada resiko kehilangan. Ia menyatkan bahwa semua ingin BUMN tetap bertahan dari pemerintah ke pemerintahan-pemerintahan berikutnya. Hekal menambahkan bahwa list profile dengan laverage dari data acquity-nya 3,4 sedangkan klausul dari perbankan 3 sehingga sudah jadi poin akrobatik yang melampaui wilayah berbahaya. Selan itu Ia berpandangan setelah tidak tanggung menanggung berutang, akhirnya muncul wacana untuk menjual tol-tol sehingga akrobatik tersebut membuat risau. Khusus terhadap BUMN-BUMN dari yang sudah disampaikan dirut karya tidak seluruh omset mereka berasal dari proyek pemerintah. Kini banyak BUMN-BUMN yang membangun perusahaan realty. Hekal kemudian menyorot Hutama Karya Realty pada 2017 mengalami penurunan tajam. Untuk itu Hekal kemudian mempertanyakan mulai kapan terjadinya perubahan BUMN ini dari kontraktor menjadi pemegang proyek dan seperti apa pola ini akankan diteruskan atau seperti apa BUMN akan membina. Beliau kemudian meminta penjelasan atas penyebab robohnya beberapa proyek dalam kurun waktu 1 tahun terakhir. Hekal menduga harus adanya atensi khusus dari direksi perusahaan karya untuk proyek-proyek tersebut agar jangan sampai ada anggota keluarga kita yang sedang melintas lalu terkena. Berhubung dapilnya adalah Tegal Brebes sehingga Ia yang sering melintas di Tol CIkampek meminta penjelasan Bu Desi (jajaran KemenBUMN-red) apa upaya untuk mengatasi kemacetan selama 3-4 jam di sana dan petugas yang sigap membaca apakah ada pengguna jalan tol yang mungkin saja sepertinya yakni lupa membawa kartu tol. Mengenai apa yang disampaikan Nsaril Bahar siapakah penguasa rest area-rest area di jalan tol karena pernah ada kawan Jasa Marga yang merasa terdzalimi oleh orang-orang pengelola rest area sehingga Hekal menanyakan apakah benar ada pengusaha yang bu desi saja takut menghadapinya yang konon dapat bermain dengan pemda, BPN, bahkan Jasa Marga itu sendiri. [sumber]

Isu Penjualan BUMN

10 Oktober 2017 - Pada Rapat Kerja Komisi 6 DPR-RI dengan Menteri Perindustrian (mewakili Menteri BUMN), Hekal mengatakan kalau ini suatu kekeliruan harus segera diklarifikasi bisa saja ada kesengajaan BUMN dirugikan terus. BUMN kita milik 250 juta jiwa, BUMN ini adalah warisan Menurut Hekal, kehilangan BUMN sama saja kehilangan warisan. Pemerintah harus patuh dan tunduk pada UUD 1945 pasal 33, semua yang ada adalah milik negara. Menurut Hekal, jika kita ingin BUMN sukses ya kita harus dukung BUMN kita. Menurut Hekal Komisi 6 menyesali Astra, BCA dan Indosat yang telah dijual. Hekal meminta tolong tanggapi moral hazard dengan serius. Jangan gegabah karena Pemerintah lagi kesusahan, yang dikorbankan malah harta warisan rakyat. Hekal juga memohon untuk disampaikan ke Presiden, Ibu Menteri & jajaran BUMN untuk spirit jaga anak cucu BUMN tetap tinggi. [sumber]

Holding Gula

28 Agustus 2017 - Pada Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan PTPN, PT RNI, Ketua Asosiasi Perkebunan, dan Deputi KemenBUMN Hekal menyampaikan bahwa satu pabrik gula sudah tidak bisa memproduksi dengan bagus dan kalah saing di pasar. Hekal menanyakan jika Indonesia stop impor gula apakah stok bisa penuhi kebutuhan. Kemudian Ia menyatakan memang semua konsumen butuh gula tapi juga harus perhatikan petani. Hekal mengatakan bahwa solusi masalah gula nasional adalah bagaimana Indonesia mau singkirkan gula impor tapi pabrik gula harus direvitalisasi. Menurutnya Komisi 6 tidak mau masyarakat menjerit, apalagi para petani tebu yang melakukan aksi demo di depan istana. Hekal berharap agar mitra memprioritaskan hal-hal yang sesuai dengan amanat undang-undang dasar dan yang sesuai dengan hajat orang banyak. Hekal memberikan masukan untuk menyusun program revitalisasi bahkan jika perlu dengan membangun pabrik gula baru. [sumber]

Dana PMN Tahun 2017 untuk LRT

19 Juli 2017 – Rapat Komisi 6 dengan Sesmen Bumn, KAI dan Adhi Karya. Hekal menanyakan kalau tidak disuntik PMN kepada PT. KAI maka LRT jadinya kapan dan kalau disuntik PNM ini bisa jadi kapan karena rute Cikampek itu macet banget.[sumber]

Sengketa Lahan Pertamina dengan Pemerintah Kota Palembang

16 Maret 2017 - M.Hekal menanyakan sebenarnya tanah seluas 28 Hektar ini lapangan golf atau bukan, kemudian ia juga menanyakan apakah tanah seluas 28 hektar ini hanya untuk 21 rumah. Menurutnya lahan seluas itu terlalu besar untuk rumah. Selain itu, Hekal menanyakan pihak Pertamina mana yang menentang Pemkot Palembang karena apa yang disampaikan oleh DPRD Palembang selanjutnya Komisi 6 akan menanyakan langsung pada pihak Pertamina. Hekal mengatakan bahwa dalam hal ini ributnya Pemerintah dan BUMN. Ia juga mengatakan Pertamina pasti akan mempertahankan asetnya dan akan sulit untuk mencabut asetnya kecuali jika ada mediasi. M.Hekal menyebutkan Komisi 6 akan mendukung DPRD Palembang, tetapi karena ini sudah masuk ranah hukum, maka DPRD Palembang harus konsisten jangan kalah. Mengenai blok laying, M. Hekal meminta untuk disampaikan saja karena masih relatif mudah dan belum menjadi perkara. [sumber]

Ditemukannya Pekerja Asal Tiongkok di Perusahaan BUMN

21 Desember 2016 - (AKTUAL.COM) - Wakil ketua Komisi VI DPR RI Mochamad Hekal mengaku pernah menemukan adanya pekerja asal China di perusahaan plat merah alias perusahaan Badan Usaha Milik Negara, saat melakukan kunjungan kerja beberapa waktu lalu.

“Ada, terkait proyek yang investasi dari China. Tapi hanya tenaga skill khusus. Mereka bekerja di PLN, di Riau, PLTU Tenayan. Yang kita lihat cuma dua, pimpinan proyeknya saja,” ujar Hekal di Jakarta, Rabu (21/12).

Terkait hak itu, Hekal menuturkan, Komisi VI sudah berulangkali mengingatkan kementerian BUMN agar lebih memprioritaskan pekerja lokal ketimbang pekerja asing dalam kegiatan pengelolaan proyek.

“Sudah kita wanti-wanti dari tahun lalu, tapi pas masuk akan kita peringatkan lagi untuk konsisten menjaga lapangan kerja untuk anak bangsa sendiri,” ujar Bendahara Fraksi Partai Gerindra di DPR ini.

Bahkan, lanjutnya, Komisi VI juga sudah melakukan pengecekan ke BUMN terkait keberadaan para pekerja asal China tersebut.

“Selama ini sudah, setiap kunjungan proyek, tapi mungkin kedepan kita akan beri peringatan khusus kepada menteri BUMN. Dan minta mereka kasih laporan buat pegangan kita.”

Namun yang terpenting, Hekal menambahkan, dalam menyikapi persoalan fenomena pekerja China ini, pemerintah harus mengkaji ulang tentang kebijakan bebas visa.

“Kita sangat ingin dukung pariwisata Indonesia, tapi harus bisa cepat diawasi berapa diantara wisatawan tersebut enggak pulang. Dan dari segi proyek-proyek pemerintah dan BUMN kita syaratan pekerja lokal kecuali yang punya skill khusus.” [sumber]

Penyertaan Modal Negara di Jamkrindo

21 Juni 2016 - Hekal menanyakan kepada Jamkrindo mengenai komitmen untuk dijalankannya syarat-syarat antara Komisi 6, Jamkrindo, dan Menteri BUMN. [sumber]

Kontrak Kerjasama PT Hotel Indonesia Natour untuk Kompleks Grand Indonesia (PT CKBI)

29 Februari 2016 - Hekal menyebutkan, dalam perjanjian Hak Pengelolaan (HPL), sertifikat lahan sebetulnya tidak dijaminkan oleh PT HIN. Hekal meminta penjelasan mengenai pemeliharaan sebesar 4%. Hekal menyayangkan adanya pengalihan aset kepada PT HIN setelah kontrak berakhir. [sumber]

Penyidikan Kasus Pelindo II

11 November 2015 - Kepada BPKP, Hekal menanyakan tentang kerugian negara yang teradi akibat masalah di Pelindo II. Hekal meminta penjelasan kepada BPKP mengenai audit QCC.

Hekal menanyakan kepada BPKP, pada saat doublelift, apakah ada penawaran lain atau penunjukan langsung yang dilakukan Pelindo II. Hekal juga menanyakan apakah saat singlelift penawaran yang diberikan HPH berada pada harga terbaik atau tidak. [sumber]

11 November 2015 - Hekal menanyakan ke Direktorat Jenderal Pajak bagaimana kajian kewajiban pajak Jakarta International Container Terminal (JICT) dan Koja. Hekal juga meminta perbandingan pajak Pelindo II beserta anak perusahannya dengan Pelindo I, Pelindo III, dan Pelindo IV. [sumber]

Kinerja Pupuk Indonesia

Pada 15 April 2015 - Sehubungan dengan kekurangan pupuk nasional, Hekal menanyakan penyebab pupuk kurang karena kapasitas yang kurang memadai atau gas sebagai bahan baku yang terbatas.

Hekal mengatakan bahwa Pemerintah menargetkan swasembada pangan dalam tiga tahun, dan cara yang paling utama untuk mencapainya adalah pupuk. Namun, revitalisasi pabrik pupuk membutuhkan waktu tiga setengah tahun, ini berarti waktu yang dibutuhkan akan melewati target pencapaian swasembada. [sumber]

Informasi Pribadi

Tempat Lahir
Jakarta
Tanggal Lahir
23/12/1976
Alamat Rumah
Jalan Sriwijaya Raya No. 12 A Rt. 003 Rw. 001 Kelurahan Selong, Kebayoran Baru, Kota Jakarta Selatan, DKI Jakarta
No Telp

Informasi Jabatan

Partai
Gerindra
Dapil
Jawa Tengah IX
Komisi
VI - Perdagangan, Perindustrian, Koperasi UKM, BUMN, Investasi dan Standarisasi