Follow us:   
Kontak kami:    kontak@wikidpr.org
Follow us:   
Kontak kami:    kontak@wikidpr.org
Berita Terkait

Kategori Berita

(Harian Kompas) AirAsia QZ8501: Merawat Kenangan, Memompa Harapan Selamat

12/12/2018



Misteri keberadaan pesawat AirAsia nomor penerbangan QZ 8501 yang hilang kontak saat dalam perjalanan dari Surabaya ke Singapura, Minggu (28/12), menyisakan duka bagi keluarga penumpang, termasuk keluarga kru pesawat. Dalam penantian yang tidak pasti, mereka terus berupaya merawat kenangan indah untuk memompa harapan pada keselamatan orang yang mereka sayangi itu.

Di teras rumah bercat kuning di kompleks perumahan Deltasari, Kelurahan Kureksari, Kecamatan Waru, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, Senin, sejumlah anak muda mengobrol santai dan penuh keakraban. Namun, raut muka mereka tampak sedih, bahkan matanya terlihat sembab.

”Maaf, kami belum bisa menerima media. Kami mohon dihormati privasi dari keluarga sampai ada kepastian,” ujar Andre sopan.

Rumah itu merupakan kediaman keluarga pramugara pesawat AirAsia, Oscar Desano. Di tempat tersebut, Oscar tinggal bersama istrinya. Andre mewakili keluarga Oscar untuk menemui tamu yang bertandang ke rumah. Sejak pesawat tempat Oscar bekerja dinyatakan hilang kontak, keluarga ini mendapat kunjungan dari kerabat dan teman dekat.

Petugas keamanan perumahan, Ikhsan, mengatakan, tetangga belum berani bertandang karena keluarga menyatakan menunggu kepastian keberadaan pesawat. Warga sekitar pun menghargai sikap itu tanpa mengurangi empati.

Kondisi berbeda terlihat di kediaman Kapten Pilot Irianto di Pondok Jati, Desa Pagerwojo, Kecamatan Buduran, Sidoarjo. Sejak Minggu siang, rumah tersebut tiada henti kedatangan keluarga, tetangga, dan sahabat.

Kendati diliputi duka mendalam, istri Irianto, yakni RR Widya Sukati Putri, bersama dua anaknya, Angela Anggi Ranastianis (25) dan Arya Galih Gegana (7), berupaya tegar. Mereka memilih merawat kenangan indah bersama Irianto.

”Papa orangnya penyayang, sabar, dan penuh perhatian. Saya berdoa Papa diberi keselamatan supaya bisa kembali berkumpul dengan keluarga di rumah,” ujar Angela.

Irianto lahir di Yogyakarta, 12 Desember 1961. Selain dikenal sebagai sosok penyayang keluarga, pilot yang pernah bekerja di Merpati Airlines dan Adam Air itu juga disegani di lingkungan sekitarnya. Ia dipercaya sebagai ketua RT dan takmir Masjid Nurul Yakin di kompleks perumahan itu. Mereka yang mengenalnya memiliki kenangan baik dan berharap Irianto segera ditemukan bersama penumpang lain dalam keadaan selamat.

Irianto merupakan Kapten Pilot AirAsia QZ 8501 jenis Airbus seri A320-200. Pesawat ini membawa 155 penumpang, yaitu 138 dewasa, 16 anak-anak, dan 1 bayi.

Namun, Widya Sukati lebih banyak memilih berada dalam kamar. ”Terima kasih, minta doanya saja,” kata Widya, menjawab panggilan telepon atau tamu yang menemuinya di kamar.

Selain Irianto dan Oscar, ada awak pesawat lain, yakni Kopilot Remi Emmanuel Plesel, pramugari Wanti Setiawati, Khairunisa Haidar Fauzi, pramugara Wismoyo Ari Prambudi, dan teknisi Syaiful Rakhmad.

Belum ada kabar

Hingga Senin malam, keberadaan pesawat tersebut belum ditemukan kendati pencarian besar-besaran sudah dilakukan. Keluarga kru pesawat dan penumpang saat ini terus memompa harapan akan datangnya kabar baik.

”Sejauh ini belum ada kabar soal kepastian lokasi pesawat,” ujar Lukman (71), paman Donna Indah Nurwatie (39), seorang penumpang AirAsia yang hilang, Minggu lalu. Donna berada di pesawat itu bersama suaminya, Gusti Made Bobi Sidharta (43), dan kedua anaknya, Gusti Ayu Putriana (16) dan Gusti Ayumade Keisha Putri (9). Mereka berangkat ke Bandara Juanda dari Malang memakai kendaraan travel pukul 01.30 dan ke Singapura untuk liburan akhir tahun.

Menurut Lukman, ia tahu
keponakannya tersebut termasuk dalam daftar penumpang AirAsia QZ 8501 pada Senin pagi. Bobi sekeluarga sebelumnya hendak berlibur ke Bali dan Mataram, Nusa Tenggara Barat. Bukan ke Singapura.

Orangtua Donna, Nur Ali (66), tampak tegar. Ia mengaku tidak menerima firasat apa-apa terkait musibah ini. Hanya istrinya, Hartatik, sering bermimpi buruk dalam sepekan terakhir. Donna juga lebih pendiam. ”Istri saya mimpi buruk, salah satunya bermimpi pagar rumah ini roboh,” ujarnya. Nur Ali berada di Surabaya saat mendengar peristiwa kecelakaan pesawat itu, sekitar pukul 13.00, Minggu.

Kerabat Bobi, Raung (49) dan Novi (47), mengatakan, mereka masih berharap Bobi dan keluarganya selamat. Mereka berharap pesawat AirAsia tersebut mendarat di suatu tempat.

Lelah hanya duduk

Di Surabaya, wajah kusut juga terlihat dari kerabat dan keluarga penumpang AirAsia QZ 8501. Mata sembab, dan bingung tak tahu apa yang harus dilakukan. Mereka hanya duduk di posko, makan, menunggu kabar tanpa ada kepastian. Meskipun difasilitasi tempat menginap atau ruang informasi, mereka tetap tidak tenang sebelum ada kepastian.

Brigida Maria, seorang di antara kerabat korban, merasakan kedatangan Wakil Presiden M Jusuf Kalla, Senin, pun belum memberikan titik terang. Dia hanya bisa berdoa dan berharap agar pesawat dan penumpang segera ditemukan.

Ia kehilangan empat kerabatnya, yakni Indra Yulianto, Stefani Yulianto, Sri Andriyani, dan Albertus Surya. Informasi yang didapat sangat minim. Televisi di ruangan posko crisis center itu kecil dan volumenya kurang jelas. Ia makin risau karena belum ada kepastian sama sekali. Keluarga hanya pasrah, sebagian bahkan hanya menangis.

”Katanya perkembangan informasi diberikan di hotel. Di hotel mana tidak jelas,” keluh Maria.

Franky Chandra, kakak dari Gani Chandra yang menumpang pesawat itu, juga terlihat gusar. Ia membawa kertas dari dalam pusat krisis berisi laporan pantauan udara mengenai lokasi perkiraan pesawat. Setelah keluar dari ruangan pusat krisis, ia mencari anggota Basarnas.

”Hanya ini yang kami dapat, tidak lengkap. Kami sebenarnya ingin tahu sampai di mana proses pencarian itu sekarang. Apa yang sudah mereka dapat,” ujarnya lagi.

Franky lelah menanti kepastian dari pusat krisis karena keluarga penumpang yang harus aktif mencari informasi. ”Kalau tidak begitu, kami di sini hanya duduk, makan, dan duduk lagi. Tidak tahu apa yang harus dilakukan,” katanya.

Djaja Laksana, rekan penumpang bernama Charli, menilai pencarian di Teluk Kumai terlalu jauh. Dia beralasan, dengan perkiraan pesawat 40 menit di udara lalu hilang kontak, pencarian tak perlu sejauh itu. ”Jatuhnya pesawat diperkirakan di sekitar perairan Laut Jawa,” ujarnya.

Namun, dia mengapresiasi upaya pencarian yang dilakukan sejauh ini dan berharap pesawat dan semua penumpang bisa ditemukan.

Dialog antara keluarga penumpang dan manajemen AirAsia, Senin sore, pun sempat berlangsung emosional. Keluarga penumpang menumpahkan segala keluhan di pusat krisis.

”Selama ini, informasi yang diberikan sekadarnya. Kami ini seperti orang bodoh, tidak tahu apa yang sesungguhnya dilakukan,” kata Andi Setiawan (40), yang kehilangan dua kerabatnya.