Skip to main content
WikiDPR.orgMendekatkan Rakyat dengan Wakilnya

Kinerja BRI – Rapat Dengar Pendapat Komisi 11 dengan BRI dan BRI Syariah

22/Nov/2015

Kinerja BRI – Rapat Dengar Pendapat Komisi 11 dengan BRI dan BRI Syariah

Pada 8 September 2015, Komisi 11 melaksanakan rapat dengar pendapat (RDP) dengan Bank Rakyat Indonesia (BRI) dan Bank Rakyat Indonesia Syariah (BRI Syariah) membahas kinerja kedua bank tersebut di tahun 2015. Rapat dipimpin oleh Jon Erizal dari Riau 1. Rapat telah memenuhi kuorum dan dibuka pukul 19.18 WIB.

Dalam pembukaan rapat, Jon Erizal berharap sektor perbankan bisa meningkatkan aktivitas ekonomi menengah ke bawah.

Pemaparan Mitra

Berikut merupakan pemaparan Direktur Utama (Dirut) BRI, Asmawi Syam:

  • Rapat dihadiri juga oleh Wakil Direktur Utama BRI, direksi BRI serta direksi BRI Syariah.
  • Prognosa Kinerja BRI Tahun 2015 dan 2016

Indikator Utama

Prognosa 2015

Pertumbuhan Kredit

13%

Pertumbuhan Simpanan

12%

Pertumbuhan Aset

4%

Pertumbuhan Fee Based Income

30%

Total Aset

Rp815,9 triliun

Tota Kredit

Rp553,9 triliun

Total Simpanan

Rp615,1 triliun

Total Net Profit

Rp24,5 triliun

 

Indikator Utama

Prognosa 2016

Pertumbuhan Kredit

13-15%

Pertumbuhan Simpanan

15-17%

Pertumbuhan Dana Murah

55-57%

Pertumbuhan Aset

14%

Pertumbuhan Fee Based Income

30%

Pertumbuhan Non Performing Loan (NPL)

2,5%

Total Aset

Rp948,9 triliun

Total Kredit

Rp634,9 triliun

Total Simpanan

Rp713,3 triliun

Total Net Profit

Rp26,1 triliun

Rasio Non Performing Loan (NPL)

2,5%

Rasio Loan Deposit to Ratio (LDR)

89%

Rasio Net Interest Margin (NIM)

8,09%

Rasio Return On Equity (ROE)

20,44%

Rasio Return On Asset (ROA)

3,81%

Rasio Biaya Operasional Pendapatan Operasional (BOPO)

69,94%

Rasio Capital Adequacy Ratio (CAR)

20,18%

 

  • Komposisi Kredit BRI

Sektor

Total Kredit

Mikro

Rp165,8 triliun

Ritel

Rp122,4 triliun

Konsumer

Rp83,8 triliun

BUMN

Rp71,8 triliun

Komersial

Rp59,7 triliun

 

  • BRI akan tetap fokus di kredit sektor mikro. Sektor ini tidak terpengaruh inflasi dan nilai tukar rupiah, terbukti dari pertumbuhan kredit mikro ritel di desa hingga 17%.
  • Kredit Usaha Rakyat (KUR) dimulai penyalurannya pada tahun 2007 dan dimoratorium Desember 2014 dengan plafon kredit Rp117 triliun dan debitur 11,5 juta nasabah. Plafon BRI dalam KUR 2007—2014 mencapai 65,42% dan debitur mencapai 92,57%. Pada 18 Agustus 2015 KUR versi baru diluncurkan, sampai September 2015 plafon BRI telah mencapai Rp712 miliar dengan 47.591 debitur. Sampai akhir tahun 2015 kuota KUR BRI mencapai Rp21,4 triliun. Langkah strategis BRI dalam penyaluran KUR dengan memanfaatkan 8.908 jaringan kantor, teras kapal BRI, 650 teras keliling BRI, 36.289 agen BRIlink, dan 14.465 sumber daya manusia (SDM) terkait KUR.

Pemantauan Rapat

Berikut merupakan masukan dan pertanyaan Anggota Komisi 11 terhadap pemaparan Mitra:

Fraksi PDI-Perjuangan. Oleh Michael Jeno dari Kalimantan Barat. Dilihat dari pemaparan, Michael menilai BRI sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) kuat dalam menghadapi krisis. Selanjutnya, Michael menanyakan apakah pertumbuhan kredit di desa 14–16% bersifat sementara atau berkelanjutan. Michael juga menanyakan apakah BRI memiliki batasan kredit untuk sektor korporasi dan infrastruktur.

Andreas Eddy Susetyo dari Jawa Timur 5. Andreas memohon agar BRI dapat bersaing dengan bank Association of Southeast Asian Nations (ASEAN) dalam Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) 2020. Terkait hal itu, Andreas menanyakan apakah ada deviasi dalam rencana bisnis BRI.

Menurut Andreas, pembukaan kantor cabang BRI di Singapura menimbulkan banyak pertanyaan. Sebelum membuka cabang di luar negeri, seharusnya dilakukan proteksi dalam negeri terlebih dahulu. Andreas melanjutkan bahwa di Singapura sudah ada dua bank Indonesia, tetapi tetap belum mampu mengambil devisa hasil ekspor.

Andreas menilai bahwa asumsi makro ekonomi yang dipaparkan BRI bisa menjadi masukan untuk pembahasan bersama Menteri Keuangan (Menkeu) karena lebih realistis. Andreas menegaskan bahwa BRI tidak perlu menambah aset untuk mengalahkan Bank Mandiri bila menambah beban.

Terkait penggunaan satelit oleh BRI, Andreas menanyakan penyebab BOPO mengalami peningkatan di tengah keinginan untuk melakukan efisiensi. Andreas menanyakan apakah BRI sudah membuat individual review penggunaan satelit dan kajian independen sistem teknologi informasi. Andreas meragukan kesiapan penggunaan satelit karena menurutnya membangun core competence tidaklah mudah.

Selanjutnya, Andreas menanyakan jumlah serapan belanja modal BRI tahun 2015 serta hambatan yang memperlambat penyerapannya. Politisi PDIP ini juga mengingatkan BRI agar dukungan kepada sektor UMKM harus dilakukan bersama seluruh Kementerian/Lembaga (K/L) yang terlibat karena diharapkan sektor ini bisa mendorong pertumbuhan ekonomi. Oleh karena itu, Andreas menyebut BRI sebagai pilar champion banking sektor mikro.

Terakhir, Andreas menegaskan kepada BRI bahwa dana transfer daerah yang besar di tahun 2015-2016 untuk desa jangan sampai kembali ke kota.

Fraksi Golkar.Mukhammad Misbakhun dari Jawa Timur 2. Menurut Misbakhun, seharusnya NPL menurun karena BRI telah memiliki teknologi tinggi yang didukung satelit sendiri. Kondisi ini menunjukkan penggunaan satelit tidak efektif. Masuknya satelit di BRI mengharuskan pembentukan payment system. Terkait hal itu, Misbakhun menanyakanapakah SDM dan infrastruktur telah mendukung penggunaan satelit.

Fraksi Gerindra.Gus Irawan Pasaribu dari Sumatera Utara 2. Gus tidak mengetahui kalau BRI telah membuka cabang di Singapura. Gus menegaskan bahwa BRI diharapkan menjadi champion micro finance bank. Oleh karena itu pemaparan BRI tentang KUR harus lebih detail, meliputi penyaluran, dampak terhadap NPL, serta sektor yang menerima. Gus juga meminta agar KUR tidak hanya disalurkan oleh BRI tetapi Bank Pembangunan Daerah (BPD) juga diperbolehkan.

Fraksi PAN. Mohammad Hatta dari Jawa Tengah 5.Hatta menyarankan agar pendalaman dilakukan ke BRI terlebih dahulu karena BRI Syariah belum ada materinya. Hatta menanyakan jumlah bunga dan apakah ada jaminan dalam KUR 2015.

Jon Erizal dari Riau 2. Jon berharap mengharapkan BRI untuk meningkatkan tampilan kantornya agar tidak kalah saing dengan bank asing. Selanjutnya, Jon meminta agar branch manager BRI mendampingi anggota Komisi 11 saat turun ke Daerah Pemilihan (Dapil). Terkait penggunaan satelit oleh BRI, Jon meminta BRI untuk memaparkan rencana jangka panjangnya. Selain itu, Jon juga meminta pendapat BRI atas kinerja Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang mengeluarkan produk keuangan, padahal fungsinya sebagai regulator. Terakhir, Jon menilai bahwa target NIM sebesar 8% tidak menunjukkan visi BRI sebagai agent of development. 

Fraksi PPP. Amir Uskara dari Sulawesi Selatan 1. Amir mengapresiasi prognosa 2016 BRI meski di tengah perlambatan ekonomi. Amir juga menilai bahwa BRI merupakan bank yang paling profesional dalam penyaluran KUR. Oleh karena itu, Amir menyarankan agar BRI mengangkat kapasitas pengusaha mikro, tidak hanya sekadar pagu KUR.

Selanjutnya, Amir menanyakan apakah regulasi yang dikeluarkan Bank Indonesia (BI) dan OJK telah sesuai atau perlu ditingkatkan lagi dalam Undang-undang Perbankan.

Dony Ahmad Munir dari Jawa Barat 9. Sejurus dengan Amir, Dony juga mengapresiasi kinerja BRI dalam penyaluran KUR yang mencapai Rp712 miliar dalam waktu 2 minggu. Terkait hal itu, Dony menanyakan usaha yang dilakukan BRI agar seluruh kuota KUR tersalurkan. Menurut Dony, KUR BRI harus ke sektor pertanian, perikanan, kehutanan, perkebunan, dan lebih prioritas dibandingkan Kupedes. Sosialisasi KUR juga harus dilaksanakan secara terstruktur, sistematis dan masif.

Sehubungan dengan kondisi ekonomi yang melemah, Dony menanyakan apakah BRI akan merevisi atau mengejar target Desember 2015. Selain itu, Dony juga menanyakan langkah yang dilakukan BRI menghadapi kredit yang bermasalah.

Fraksi Nasdem. Johnny G Plate dari Nusa Tenggara Timur 1. Menurut Johnny, NPL masih dalam posisi yang bisa dipertanggungjawabkan, tetapi kemungkinan NPL akan mengalami peningkatan dari sektor UMKM. Terkait hal tersebut, Johnny meminta langkah strategis yang dilakukan BRI untuk mencegah kenaikan NPL.

Johnny menilai bahwa kualitas dan sebaran distribusi KUR harus baik karena saat Komisi 11 kunjungan kerja ke Nusa Tenggara Timur (NTT) mayoritas penerima KUR adalah sektor perdagangan. Oleh karena itu, Johnny menyarankan agar BRI juga melakukan diskusi dengan anggota DPR saat kami ke Dapil.

Johnny mengingatkan bahwa strategi jitu BRI sangat penting karena visi misi yang dimiliki berbeda dengan private bank dan asing.

Donny Imam Priambodo dari Jawa Tengah 3. Donny meminta penjelasan BRI tentang dampak pelemahan nilai tukar rupiah terhadap NPL dan sektor kredit BRI. Selanjutnya, Donny menanyakan apakah pola pikir nasabah di BRI Syariah berubah. Selain itu, Donny juga menanyakan apakah penjaminan Askrindo dan Jamkrindo telah dikerjasamakan dengan BRI.

Respon Mitra

Berikut merupakan respon Dirut BRI, Asmawi Syam terhadap masukan dan pertanyaan anggota Komisi 11:

Asmawi mengucapkan terimakasih atas dukungan Komisi 11 terhadap KUR. Pihaknya berjanji akan terus melaksanakan KUR walau dengan overhead cost yang tinggi. Penyaluran KUR akan difokuskan kepada masyarakat kecil yang membutuhkan atau unbankable.

Tujuan pembukaan cabang BRI di Singapura adalah mencari dana.

Seluruh jaringan BRI telah online, tetapi dengan banyak service provider sehingga bisa menyebabkan offline berbeda-beda. Satelit yang BRI miliki live di pertengahan 2016 merupakan sebuah efisiensi dan akan memberikan pelayanan yang sama untuk seluruh cabang.

BRI tidak mengeluarkan biaya untuk slot, tetapi hanya untuk biaya satelit dan pengoperasian. Langkah yang BRI lakukan bertujuan untuk menyelamatkan slot pemerintah yang tidak lagi diisi oleh Indosat karena akan diambil oleh Jepang.

Asmawi merasa OJK tidak mengeluarkan produk, tetapi sebuah kebijakan, seperti Layanan Keuangan Tanpa Kantor Dalam Rangka Keuangan Inklusif (Laku Pandai) yang sangat menguntungkan BRI. Kebijakan Laku Pandai ini sangat berperan untuk financial inclusion. Untuk asumsi makro, BRI membuatnya berdasarkan antisipasi kenaikan bunga The Fed. 

Kesimpulan Rapat

  1. Komisi 11 mengapresiasi penyaluran KUR BRI dan mendorong pengoptimalan dengan memperhatikan sebaran wilayah sehingga dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan rakyat.
  2. Komisi 11 melakukan pendalaman terhadap rencana penggunaan satelit dalam rangka menunjang operasi BRI.
  3. Komisi 11 meminta BRI melakukan optimalisasi alokasi penyaluran komposisi KUR.
  4. Komisi 11 meminta BRI meningkatkan efisiensi agar dapat menurunkan tingkat suku bunga kredit mikro kecil.
  5. Komisi 11 meminta BRI menyampaikan laporan realisasi dan rencana belanja modal 2015 serta permasalahannya.

Penutup Rapat

Asmawi mengucapkan terimakasih atas dukungan terhadap BRI sehingga membuat yang berat menjadi ringan. Terakhit, Ketua Rapat, Jon Erizal menutup RDP dengan BRI pukul 22.30 WIB.

Untuk membaca rangkaian livetweet rapat Komisi 11 dengan BRI, kunjungi http://chirpstory.com/li/284323.

wikidpr/fir

Ilustrasi Gambar : cnnindonesia.com