Follow us:   
Kontak kami:    kontak@wikidpr.org
Follow us:   
Kontak kami:    kontak@wikidpr.org
Rangkuman Terkait

Komisi / Alat Kelengkapan Dewan

Lanjutan Pembahasan Daftar Inventarisasi Masalah Rancangan Undang-Undang Cipta Kerja (DIM RUU CK) (dimulai dari DIM 2051) — Badan Legislatif (Baleg) DPR-RI Rapat Panja dengan Tim Ahli Baleg DPR RI, Tim Pemerintah dan DPD RI

Tanggal Rapat: 31 Aug 2020, Ditulis Tanggal: 8 Oct 2020,
Komisi/AKD: Badan Legislasi , Mitra Kerja: Tim Pemerintah, Tenaga Ahli Badan Legislasi DPR RI, dan DPD RI

Pada 31 Agustus 2020, Badan Legislatif (Baleg) DPR-RI mengadakan Rapat Panja dengan Tim Ahli Baleg, Tim Pemerintah dan DPD RI mengenai Lanjutan Pembahasan Daftar Inventarisasi Masalah Rancangan Undang-Undang Cipta Kerja (DIM RUU CK) (dimulai dari DIM 2051). RDP ini dibuka dan dipimpin oleh Supratman dari Fraksi Partai Gerindra dapil Sulawesi Tenggara pada pukul 11:35 WIB dan dinyatakan terbuka untuk umum. (Ilustrasi: ayojakarta.com)

Pemaparan Mitra

Berikut merupakan pemaparan mitra:

Tim Pemerintah, Tenaga Ahli Badan Legislasi DPR RI, dan DPD RI

Tim Ahli Baleg DPR RI

  • DIM 2501:
    • Ketentuan UU:
    • Rancangan UU: Pasal 128A (1) Pelaku usaha yang melakukan peningkatan nilai tambah mineral dan batubara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 103, dapat diberikan perlakuan tertentu terhadap kewajiban penerimaan negara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 128.
    • Kajian Tim Ahli DPR:
    • Tanggapan Fraksi:
      • FPDI-P: Meminta penjelasan dari Pemerintah mengenai maksud dan tujuan dari “perlakuan tertentu” dalam kewajiban penerimaan negara.
      • FG: Tetap.
      • FGerindra:
      • FNasdem: Meminta penjelasan dari Pemerintah terhadap penambahan Pasal 128A khususnya tentang perlakuan tertentu.
      • FPKB: Tetap.
      • FPD:
      • FPKS:
      • FPAN:
      • FPPP: Dihapus.
      • DPD RI:
  • DIM 2503:
    • Ketentuan UU:
    • Rancangan UU: (3) Ketentuan lebih lanjut mengenai perlakuan tertentu sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Pemerintah
    • Kajian Tim Ahli DPR:
    • Tanggapan Fraksi:
      • FPDI-P: Tetap.
      • FG: Tetap.
      • FGerindra:
      • FNasdem: Tetap.
      • FPKB: Tetap.
      • FPD:
      • FPKS:
      • FPAN:
      • FPPP: Dihapus.
      • DPD RI:
  • DIM 2507:
    • Ketentuan UU: (3) Kegiatan usaha pertambangan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dapat dilaksanakan setelah mendapatkan izin dari instansi Pemerintah sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
    • Rancangan UU: (3) Kegiatan usaha pertambangan tidak dapat dilaksanakan pada tempat yang dilarang untuk melakukan kegiatan usaha pertambangan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. (4) Dalam hal terjadi tumpang tindih antara kegiatan usaha pertambangan dengan kawasan hutan, rencana tata ruang, perizinan berusaha/persetujuan.
    • Kajian Tim Ahli DPR:
    • Tanggapan Fraksi:
      • FPDI-P: Meminta penjelasan terkait 2 ayat memiliki frasa yang sama. Ketentuan pada ayat ini sebaiknya dihapus dari RUU CK. Dengan alasan, adanya isi dari ketentuan ayat 3 sudah diatur dalam ketentuan ayat 2 di RUU CK.
      • FG: Tetap.
      • FGerindra:
      • FNasdem: Tetap.
      • FPKB: Tetap.
      • FPD:
      • FPKS:
      • FPAN:
      • FPPP: Tetap.
      • DPD RI: Tetap.
  • DIM 2587:
    • Ketentuan UU: (2) Penguasaan oleh negara sebagimana dimaksud dalam ayat (1) diselenggarakan oleh Pemerintah sebagai pemegang Kuasa Pertambangan.
    • Rancangan UU: (2) Penguasaan oleh negara sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diselenggarakan oleh Pemerintah melalui kegiatan usaha minyak dan gas bumi.
    • Kajian Tim Ahli DPR: Tetap.
    • Tanggapan Fraksi:
      • FPDI-P: Usul: Diubah. Penguasaan oleh negara sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diselenggarakan oleh Pemerintah pusat sebagai pemegang kuasa pertambangan melalui kegiatan usaha minyak dan gas bumi.
      • FG: Tetap.
      • FGerindra: Diubah.
      • FNasdem: Tetap.
      • FPKB: Perubahan redaksi.
      • FPD: Tetap.
      • FPKS: Tetap.
      • FPAN: Perubahan redaksi.
      • FPPP: Tetap
      • DPD RI: Tetap.
  • DIM 2588:
    • Ketentuan UU: (3) Pemerintah sebagai pemegang kuasa pertambangan membentuk Badan Pelaksana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 angka 23.
    • Rancangan UU: (3) Kegiatan usaha minyak dan gas bumi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) terdiri atas kegiatan hulu minyak dan gas bumi dan kegiatan usaha hilir minyak dan gas bumi.
    • Kajian Tim Ahli DPR: Tetap.
    • Tanggapan Fraksi:
      • FPDI-P: Meminta penjelasan Pemerintah.
      • FG: Tetap.
      • FGerindra: Tetap.
      • FNasdem: Tetap.
      • FPKB: Tetap.
      • FPD: Tetap.
      • FPKS: Tetap.
      • FPAN: Tetap.
      • FPPP: Tetap.
      • DPD RI: Meminta penjelasan Pemerintah.
  • DIM 2590:
    • Ketentuan UU:
    • Rancangan UU: Pasal 4A (1) Kegiatan usaha hulu minyak dan gas bumi diselenggarakan oleh Pemerintah Pusat sebagai Pemegang Kuasa Pertambangan.
    • Kajian Tim Ahli DPR: Tetap.
    • Tanggapan Fraksi:
      • FPDI-P: Meminta penjelasan Pemerintah.
      • FG: Tetap.
      • FGerindra: Tetap.
      • FNasdem: Tetap.
      • FPKB: Tetap.
      • FPD: Tetap.
      • FPKS: Tetap.
      • FPAN: Tetap.
      • FPPP: Tetap.
      • DPD RI: Tetap.
  • DIM 2591 Ayat 2:
    • Ketentuan UU:
    • Rancangan UU: (2) Pemerintah Pusat sebagai pemegang kuasa pertambangan dapat membentuk atau menugaskan Badan Usaha Milik Negara Khusus sebagai pelaksana kegiatan usaha hulu minyak dan gas bumi.
    • Kajian Tim Ahli DPR: Tetap.
    • Tanggapan Fraksi:
      • FPDI-P: Meminta penjelasan Pemerintah terkait dengan BUMN Khusus.
      • FG: Perubahan redaksi.
      • FGerindra: Meminta pendalaman.
      • FNasdem: Tetap.
      • FPKB: Pending.
      • FPD: Tetap.
      • FPKS: Perubahan redaksi.
      • FPAN: Tetap.
      • FPPP: Perubahan redaksi.
      • DPD RI:
  • DIM 2596 Ayat 7:
    • Ketentuan UU:
    • Rancangan UU: (7) Kontrak kerja sama sebagaimana dimaksud dalam ayat (6) wajib memuat paling sedikit ketentuan-ketentuan pokok yaitu:
    • Kajian Tim Ahli DPR: Tetap.
    • Tanggapan Fraksi:
      • FPDI-P: Meminta penjelasan pemerintah terkait macam-macam ketentuan yang menjadi syarat kontrak kerja.
      • FG: Tetap.
      • FGerindra: Tetap.
      • FNasdem: Tetap.
      • FPKB: Tetap.
      • FPD: Tetap.
      • FPKS: Tetap.
      • FPAN: Tetap.
      • FPPP: Tetap.
      • DPD RI: Tetap.
  • DIM 2597:
    • Ketentuan UU:
    • Rancangan UU: a. Penerimaan negara.
    • Kajian Tim Ahli DPR: Tetap.
    • Tanggapan Fraksi:
      • FPDI-P: Meminta penjelasan Pemerintah terkait macam-macam ketentuan yang menjadi syarat kontrak kerja?
      • FG: Tetap.
      • FGerindra: Diubah. a. Penerimaan negara dan penerimaan daerah.
      • FNasdem: Tetap.
      • FPKB:Tetap.
      • FPD: Tetap.
      • FPKS: Tetap.
      • FPAN: Tetap.
      • FPPP: Tetap.
      • DPD RI: Tetap.
  • DIM 2598:
    • Ketentuan UU:
    • Rancangan UU: b. Wilayah kerja dan pengembaliannya.
    • Kajian Tim Ahli DPR: Tetap.
    • Tanggapan Fraksi:
      • FPDI-P: Meminta penjelasan pemerintah terkait ketentuan wilayah kerja dan pengembaliannya.
      • FG: Tetap.
      • FGerindra: Tetap.
      • FNasdem: Tetap.
      • FPKB: Tetap.
      • FPD: Tetap.
      • FPKS: Tetap.
      • FPAN: Tetap.
      • FPPP: Tetap.
      • DPD RI: Tetap.
  • DIM 2599, 2600, 2601, 2602, 2603, 2604, 2605, 2606, 2607, 2608, 2609, 2610, 2611, 2612, dan 2613 tetap.
  • DIM 2615:
    • Ketentuan UU: Pasal 5 Kegiatan usaha minyak dan gas bumi terdiri atas: 1. Kegiatan usaha hulu yang mencakup: a. Eksplorasi; b. Eksploitasi.
    • Rancangan UU: Pasal 5 (1) Kegiatan usaha munyak dan gas bumi dilaksanakan berdasarkan Perizinan Berusaha dari Pemerintah Pusat.
    • Kajian Tim Ahli DPR: Tetap.
    • Tanggapan Fraksi:
      • FPDI-P: Meminta penjelasan pemerintah.
      • FG: Tetap.
      • FGerindra: Tetap.
      • FNasdem: Tetap.
      • FPKB:Tetap.
      • FPD: Tetap.
      • FPKS: Tetap.
      • FPAN: Tetap.
      • FPPP: Tetap.
      • DPD RI: Tetap.
  • DIM 2616:
    • Ketentuan UU: 2. Kegiatan usaha hilir yang mencakup: a. Pengolahan; b. Pengangkutan; c. Penyimpanan; d. Niaga.
    • Rancangan UU: (2) Kegiatan usaha minyak dan gas bumi terdiri atas:
    • Kajian Tim Ahli DPR: Tetap.
    • Tanggapan Fraksi:
      • FPDI-P: Meminta penjelasan pemerintah.
      • FG: Tetap.
      • FGerindra: Tetap.
      • FNasdem: Tetap.
      • FPKB: Tetap.
      • FPD: Tetap.
      • FPKS: Dihapus.
      • FPAN: Tetap.
      • FPPP: Tetap.
      • DPD RI: Tetap.
  • DIM 2618, 2619, 2620, 2621, 2622, 2623, 2624, 2625, 2636, 2637, 2638, dan 2639 setuju.
  • DIM 2641:
    • Ketentuan UU:
    • Rancangan UU: (4) Permohonan perizinan berusaha sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib dilakukan enggunakan sistem perizinan terintegrasi secara elektronik yang dikelola oleh Pemerintah Pusat.
    • Kajian Tim Ahli DPR: Tetap.
    • Tanggapan Fraksi:
      • FPDI-P: Meminta penjelasan pemerintah tentang sistem perizinan terintegrasi secara elektronik.
      • FG: Tetap.
      • FGerindra: Diubah. (5) Permohonan perizinan berusaha sebagaimana dimaksud pada ayat (2) wajib dilakukan menggunakan sistem perizinan terintegrasi secara elektronik yang dikelola oleh Pemerintah Pusat.
      • FNasdem: Tetap.
      • FPKB: Tetap.
      • FPD: Tetap.
      • FPKS: Dihapus.
      • FPAN: Tetap.
      • FPPP: Dihapus.
      • DPD RI: Tetap.
  • DIM 2675, 2676, 2677, 2678, 2679, 2680, 2681, 2682, dan 2683 pending.
  • DIM 2689 Pasal 5:
    • Ketentuan UU: Pasal 5 (3) Penyelenggaraan Panas Bumi oleh Pemerintah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (2) dilakukan terhadap: a. Panas bumi untuk pemanfaatan langsung yang berada pada: 1. Lintas wilayah provinsi termasuk Kawasan Hutan lindung; 2. Kawasan Hutan Konservasi; 3. Kawasan konservasi di perairan; dan 4. Wilayah laut lebih dari 12 garis pantai ke arah laut lepas di seluruh Indonesia. b. Panas Bumi untuk Pemanfaatan Tidak Langsung yang berada di seluruh wilayah Indonesia termasuk Kawasan Hutan produksi, Kawasan Hutan lindung, Kawasan Hutan konservasi, dan wilayah laut.
    • Rancangan UU: Pasal 5 (1) Pemerintah Pusat menyelenggarakan kegiatan panas bumi di seluruh wilayah bukan panas bumi.
    • Kajian Tim Ahli DPR: Tetap.
    • Tanggapan Fraksi:
      • FPDI-P: Meminta penjelasan pemerintah terkait syarat mutlak penyelenggaraan kegiatan panas bumi di seluruh wilayah bukan Indonesia? Apakah sebaiknya dikembalikan ke UU existing.
      • FG: Tetap.
      • FGerindra: Diubah. Kembali je uu existing dengan perubahan kata “Pemerintah” menjadi “Pemerintah Pusat”. Kewenangan perizinan di bidang energi dan sumber daya mineral juga terdesentralisasi kepada Pemerintah Daerah. Perhatikan lampiran cc No. 5 UU Pemda.
        • Alasan Fraksi: MK dalam Putusan No. 11/PUU-XIV/2016 menegaskan konstitusionalitas Pasal 5 ayat (1) huruf b UU existing, karena itu tidak perlu dihapus agar tidak bertentangan dengan Putusan MK.
      • FNasdem: Tetap.
      • FPKB: Tetap.
      • FPD: Tetap.
      • FPKS: Tetap.
      • FPAN: Tetap.
      • FPPP: Tetap.
      • DPD RI: Diubah.
  • DIM 2706, 2707, 2708, 2709, 2710, dan 2711 tetap.
  • DIM 2712:
    • Ketentuan UU: Pasal 23 (1) Badan Usaha yang melakukan pengusahaan Panas BUmi untuk Pemanfaatan Tidak Langsung sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (1) huruf b wajib terlebih dahulu memiliki izin Panas Bumi.
    • Rancangan UU: Pasal 23 (1) Badan Usaha yang melakukan pengusahaan Panas Bumi untuk Pemanfaat Tidak Langsung sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (1) huruf b wajib terlebih dahulu memenuhi Perizinan Berusaha di bidang Panas Bumi.
    • Kajian Tim Ahli DPR: Tetap.
    • Tanggapan Fraksi:
      • FPDI-P: Meminta Penjelasan Pemerintah.
      • FG: Tetap.
      • FGerindra: Diubah. Pasal 23 (1) Badan Usaha yang melakukan pengesahan Panas Bumi untuk Pemanfaatan Tidak Langsung sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (1) huruf b wajib terlebih dahulu memenuhi Perizinan Berusaha terkait Panas Bumi.
      • FNasdem: Tetap.
      • FPKB: Tetap.
      • FPD: Tetap.
      • FPKS: Tetap.
      • FPAN: Tetap.
      • FPPP: Tetap.
      • DPD RI: Tetap.
  • DIM 2714 dan 2715 tetap.
    • DIM 2714:
      • Ketentuan UU:
      • Rancangan UU: (3) Ketentuan lebih lanjut mengenai pemberian Perizinan Berusaha di bidang Panas Bumi untuk Pemanfaatan Tidak Langsung diatur dengan Peraturan Pemerintah.
      • Kajian Tim Ahli DPR: Tetap.
      • Tanggapan Fraksi:
        • FPDI-P: Meminta penjelasan Pemerintah terkait pemberian izin usaha.
        • FG: Tetap.
        • FGerindra: Tetap.
        • FNasdem:
        • FPKB:
        • FPD:
        • FPKS:
        • FPAN:
        • FPPP:
        • DPD RI:
    • DIM 2715:
      • Ketentuan UU: Pasal 24 (1) Izin Panas Bumi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 23 ayat (2) harus memuat ketentuan paling sedikit: a. Nama Badan Usaha; b. Nomor pokok wajib pajak Badan Usaha; c. jenis kegiatan pengusahaan; d. Jangka waktu berlakunya Izin Panas Bumi; e. Hak dan kewajiban pemegang Izin Panas Bumi; f. Wilayah Kerja; g. Tahapan pengembalian wilayah kerja. (2) Terkait izin kegiatan pengusahaan Panas Bumi untuk
      • Rancangan UU: 17. Ketentuan Pasal 24 dihapus.
      • Kajian Tim Ahli DPR: Tetap.
      • Tanggapan Fraksi:
        • FPDI-P: Meminta penjelasan Pemerintah terkait penghapusan Pasal 24 dalam RUU Cipta Kerja.
        • FG: Tetap.
        • FGerindra: Tetap.
        • FNasdem:
        • FPKB:
        • FPD:
        • FPKS:
        • FPAN:
        • FPPP:
        • DPD RI:
  • DIM 2716:
    • Ketentuan UU: Pasal 25 Dalam hal kegiatan pengusahaan Panas BUmi untuk Pemanfaatan Tidak Langsung berada pada wilayah konservasi di wilayah konservasi di perairan, pemegang Izin Panas Bumi wajib mendapatkan Izin dari Menteri yang menyelenggarakan urusan Pemerintahan di bidang kelautan.
    • Rancangan UU: 13. Ketentuan Pasal 25 dihapus.
    • Kajian Tim Ahli DPR: Tetap.
    • Tanggapan Fraksi:
      • FPDI-P: Meminta penjelasan pemerintah mengapa dihapus, bukankah pasal ini penting?
      • FG: Tetap.
      • FGerindra: Diubah. Kembali ke UU existing dengan perubahan Pasal 25 Dalam hal kegiatan pengusahaan Panas Bumi untuk Pemanfaatan Tidak Langsung berada pada wilayah konservasi di perairan, pemegang izin Panas Bumi wajib mendapatkan Perizinan Berusaha terkait pemanfaatan di laut.
      • FNasdem: Tetap.
      • FPKB: Tetap.
      • FPD: Tetap.
      • FPKS: Tetap.
      • FPAN: Tetap.
      • FPPP: Tetap.
      • DPD RI: Meminta penjelasan pemerintah.
  • DIM 2719:
    • Ketentuan UU: a. Melakukan pelanggaran terhadap salah satu ketentuan yang tercantum dalam Izin Panas Bumi; dan/atau
    • Rancangan UU: a. Melakukan pelanggaran terhadap salah satu ketentuan yang tercantum dalam Perizinan Berusaha terkait Panas Bumi; dan/atau
    • Kajian Tim Ahli DPR: Tetap.
    • Tanggapan Fraksi:
      • FPDI-P: Tetap.
      • FG: Tetap.
      • FGerindra: Tetap.
      • FNasdem: Tetap.
      • FPKB: Tetap.
      • FPD: Tetap.
      • FPKS: Tetap.
      • FPAN: Tetap.
      • FPPP: Tetap.
      • DPD RI: Tetap.
  • DIM 2724:
    • Ketentuan UU: a. Pemegang Izin Panas Bumi memberikan data, informasi, atau keterangan yang tidak benar dalam permohonana, atau
    • Rancangan UU: a. Pelaku usaha Panas Bumi memberikan data, informasi, atau keterangan yang tidak benar dalam permohonan; atau
    • Kajian Tim Ahli DPR: Tetap.
    • Tanggapan Fraksi:
      • FPDI-P: Tetap.
      • FG: Tetap.
      • FGerindra: Tetap.
      • FNasdem: Tetap.
      • FPKB: Tetap.
      • FPD: Tetap.
      • FPKS: Tetap.
      • FPAN: Tetap.
      • FPPP: Tetap.
      • DPD RI: Tetap.
  • DIM 2723 disetujui.
  • DIM 2725:
    • Ketentuan UU: b. Izin Panas Bumi dinyatakan batal berdasarkan putusan pengadilan.
    • Rancangan UU: b. Perizinan berusaha terkait Panas Bumi dinyatakan berdasarkan putusan pengadilan.
    • Kajian Tim Ahli DPR: Tetap.
    • Tanggapan Fraksi:
      • FPDI-P: Tetap.
      • FG: Tetap.
      • FGerindra: Tetap.
      • FNasdem: Tetap.
      • FPKB: Tetap.
      • FPD: Tetap.
      • FPKS: Tetap.
      • FPAN: Tetap.
      • FPPP: Tetap.
      • DPD RI: Tetap.
  • DIM 2734:
    • Ketentuan UU: Pasal 42 (1) Dalam hal akan menggunakan bidang-bidang tanah negara, hak atas tanah, tanah wilayah, dan/atau Kawasan Hutan di dalam Wilayah Kerja, pemegang Izin Pemnfaatan Langsung atau pemegang Izin Panas Bumi harus terlebih dahulu melakukan penyelesaian penggunaan lahan dengan pemakaian tanah di atas tanah negara atau pemegang hak atau Izin di bidang kehutanan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. (2) Dalam hal Menteri menyelenggarakan eksplorasi terkait menetapkan wilayah kerja sebagaimana dimaksud.
    • Rancangan UU: Pasal 42 Dalam hal pelaku usaha pemanfaatan langsung atau pelaku usaha Panas Bumi akan menggunakan bidang tanah negara, hak atas tanah, tanah ulayat, dan/atau kawasan hutan di dalam wilayah kerja, harus terlebih dahulu melakukan penyelesaian penggunaan lahan dengan pemakaian tanah di atas negara atau pemegang hak atau Izin di bidang kehutanan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
    • Kajian Tim Ahli DPR: Tetap.
    • Tanggapan Fraksi:
      • FPDI-P: Meminta penjelasan pemerintah.
      • FG: Tetap.
      • FGerindra: Tetap.
      • FNasdem: Tetap.
      • FPKB: Tetap.
      • FPD: Tetap.
      • FPKS: Tetap.
      • FPAN: Tetap.
      • FPPP: Tetap.
      • DPD RI: Meminta penjelasan pemerintah.
  • DIM 2735:
    • Ketentuan UU: Pasal 43 (1) Pemegang Izin Pemanfaatan Langsung atau Pemegang Izin Panas Bumi sebelum melakukan pengusahaan Panas Bumi di atas tanah negara, hak atas tanah, tanah ulayat, dan/atau Kawasan Hutan harus: a. Memperhatikan: 1. Izin Pemanfaatan Langsung atau salinan yang sah; atau 2. Izin Panas Bumi atau salinan yang sah; b. Memberitahukan maksud dan tempat kegiatan yang akan dilakukan; c. melakukan penyelesaian atau jaminan.
    • Rancangan UU: 19. Ketentuan Pasal 43 dihapus.
    • Kajian Tim Ahli DPR: Tetap.
    • Tanggapan Fraksi:
      • FPDI-P: Meminta penjelasan pemerintah. Kembali ke UU existing.
      • FG: Tetap.
      • FGerindra: Tetap.
      • FNasdem: Tetap.
      • FPKB: Tetap.
      • FPD: Tetap.
      • FPKS: Tetap.
      • FPAN: Tetap.
      • FPPP: Tetap.
      • DPD RI: Tetap.
  • DIM 2738:
    • Ketentuan UU: Pasal 47 Pemegang Izin Pemanfaatan Langsung berhak melakukan pengusahaan Panas Bumi sesuai dengan Izin yang diberikan.
    • Rancangan UU: 21. Ketentuan Pasal 47 dihapus.
    • Kajian Tim Ahli DPR: Tetap.
    • Tanggapan Fraksi:
      • FPDI-P: Meminta penjelasan pemerintah.
      • FG: Tetap.
      • FGerindra: Tetap.
      • FNasdem: Tetap.
      • FPKB: Tetap.
      • FPD: Tetap.
      • FPKS: Tetap.
      • FPAN: Tetap.
      • FPPP: Tetap.
      • DPD RI: Tetap.
  • DIM 2740:
    • Ketentuan UU: Pasal 48 Pemegang Izin Peanfaatan Langsung wajib:
    • Rancangan UU: Pasal 48 Pemegang usaha Pemanfaatan Langsung wajib:
    • Kajian Tim Ahli DPR: Tetap.
    • Tanggapan Fraksi:
      • FPDI-P: Meminta penjelasan pemerintah. Kembali ke UU existing.
      • FG: Tetap.
      • FGerindra: Tetap.
      • FNasdem: Tetap.
      • FPKB: Tetap.
      • FPD: Tetap.
      • FPKS: Tetap.
      • FPAN: Tetap.
      • FPPP: Tetap.
      • DPD RI: Tetap.
  • DIM 2746:
    • Ketentuan UU: b. Pajak daerah, dan c. retribusi daerah. (2) Kewajiban pemenuhan pajak daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf b dan retribusi daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b dan retribusi daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
    • Rancangan UU: b. Retribusi daerah.
    • Kajian Tim Ahli DPR: Tetap.
    • Tanggapan Fraksi:
      • FPDI-P: Tetap. Mengusulkan Ayat (2) Kewajiban pemenuhan pajak daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a dan retribusi daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan pemerintah. Tetap.
      • FG: Tetap.
      • FGerindra: Tetap.
      • FNasdem: Tetap,
      • FPKB: Tetap.
      • FPD: Tetap.
      • FPKS: Tetap.
      • FPAN: Tetap.
      • FPPP: Tetap.
      • DPD RI: Meminta penjelasan pemerintah.
  • DIM 2755 ayat 2:
    • Ketentuan UU: (2) Menteri dapat melimpahkan kepada gubernur untuk melakukan pembinaan dan pengawasan penyelenggaraan Panas Bumi untuk Pemanfaatan Langsung yang dilaksanakan oleh pemerintah kabupaten/kota.
    • Rancangan UU: (2) Ketentuan lebih lanjut mengenai pembinaan dan pengawasan penyelenggaraan Panas Bumi untuk Pemanfaatan Langsung diatur dengan Peraturan Pemerintah.
    • Kajian Tim Ahli DPR: Tetap.
    • Tanggapan Fraksi:
      • FPDI-P: Tetap.
      • FG: Tetap.
      • FGerindra: Tetap.
      • FNasdem: Tetap.
      • FPKB: Tetap.
      • FPD: Tetap.
      • FPKS: Tetap.
      • FPAN: Tetap.
      • FPPP: Tetap.
      • DPD RI: Meminta penjelasan pemerintah.
  • DIM 2756 Pasal 60:
    • Ketentuan UU: Pasal 60 (1) Menteri, gubernur atau bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya melakukan pembinaan dan pengawasan atas pelaksanaan pengusahaan Panas Bumi untuk Pemanfaatan Langsung yang dilakukan oleh pemegang Izin Pemanfaatan Langsung. (2) Gubernur dan bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya melaporkan pelaksanaan penyelenggaraan Panas Bumi untuk Pemanfaatan
    • Rancangan UU: 27. Ketentuan Pasal 60 dihapus.
    • Kajian Tim Ahli DPR: Tetap.
    • Tanggapan Fraksi:
      • FPDI-P: Meminta penjelasan pemerintah terkait muatan pada Pasal 60 Undang-Undang Eksisting dimasukan pada Peraturan Pemerintah.
      • FG: Tetap.
      • FGerindra: Tetap.
      • FNasdem: Tetap.
      • FPKB: Tetap.
      • FPD: Tetap.
      • FPKS: Tetap.
      • FPAN: Tetap.
      • FPPP: Tetap.
      • DPD RI: Mengusulkan perumusan.
  • DIM 2816:
    • Ketentuan UU: (1) Izin operasi adalah Izin untuk melakukan penyediaan tenaga listrik untuk kepentingan sendiri.
    • Rancangan UU: 11. Dihapus.
    • Kajian Tim Ahli DPR: Tetap.
    • Tanggapan Fraksi:
      • FPDI-P: Meminta penjelasan pemerintah.
      • FG: Tetap.
      • FGerindra: Tetap.
      • FNasdem: Tetap.
      • FPKB: Tetap.
      • FPD: Tetap.
      • FPKS: Tetap.
      • FPAN: Tetap.
      • FPPP: Tetap.
      • DPD RI: Tetap.
  • DIM 2817:
    • Ketentuan UU: (2) Wilayah usaha adalah wilayah yang ditetapkan Pemerintah sebagai tempat badan usaha distribusi dan/atau penjualan tenaga listrik melakukan usaha penyediaan tenaga listrik.
    • Rancangan UU: 12. Wilayah usaha adalah wilayah yang ditetapkan sebagai tempat badan usaha melakukan usaha distribusi dan/atau penjualan tenaga listrik.
    • Kajian Tim Ahli DPR: Tetap.
    • Tanggapan Fraksi:
      • FPDI-P: Tetap.
      • FG: Tetap.
      • FGerindra: Tetap.
      • FNasdem: Tetap.
      • FPKB: Tetap.
      • FPD: Tetap.
      • FPKS: Tetap.
      • FPAN: Tetap.
      • FPPP: Tetap.
      • DPD RI: Tetap.
  • DIM 2829:
    • Ketentuan UU: (2) Badan usaha swasta, koperasi, dan swadaya masyarakat dapat berpartisipasi dalam usaha penyediaan tenaga listrik.
    • Rancangan UU: (2) Badan usaha milik daerah, Badan usaha swasta, koperasi, dan swadaya masyarakat dapat berpartisipasi dalam usaha penyediaan tenaga listrik.
    • Kajian Tim Ahli DPR: Tetap. Penyediaan tenaga listrik hanya dilaksanakan oleh Pemerintah Pusat dan dilakukan oleh BUMN. Kedudukan BUMD dipersamakan dengan badan usaha swasta, koperasi dan swadaya masyarakat yang hanya dapat berpartisipasi.
    • Tanggapan Fraksi:
      • FPDI-P: Tetap.
      • FG: Tetap.
      • FGerindra: Tetap.
      • FNasdem: Tetap.
      • FPKB: Tetap.
      • FPD: Tetap.
      • FPKS: Tetap.
      • FPAN: Tetap.
      • FPPP: Tetap.
      • DPD RI: Tetap.
  • DIM 2835:
    • Ketentuan UU:
    • Rancangan UU: (4) Ketentuan lebih lanjut mengenai penyediaan dana sebagaimana dimaksud pada ayat (3) diatur dengan Peraturan Pemerintah.
    • Kajian Tim Ahli DPR: Tetap.
    • Tanggapan Fraksi:
      • FPDI-P: Mengapa peraturan pada ayat (4) tidak diatur dengan Permen saja?
      • FG: Tetap.
      • FGerindra: Tetap.
      • FNasdem: Tetap.
      • FPKB: Tetap.
      • FPD: Tetap.
      • FPKS: Tetap.
      • FPAN: Tetap.
      • FPPP: Tetap.
      • DPD RI: Tetap.
  • DIM 2840:
    • Ketentuan UU: c. Penetapan pedoman standar, dan kriteria di bidang ketenagalistrikan;
    • Rancangan UU: c. Penetapan standar, pedoman, dan kriteria di bidang ketenagalistrikan;
    • Kajian Tim Ahli DPR: Tetap.
    • Tanggapan Fraksi:
      • FPDI-P: Tetap.
      • FG: Tetap.
      • FGerindra: Tetap.
      • FNasdem: Tetap.
      • FPKB: Tetap.
      • FPD: Tetap.
      • FPKS: Tetap.
      • FPAN: Tetap.
      • FPPP: Tetap.
      • DPD RI: Tetap.
  • DIM 2843:
    • Ketentuan UU: f. Penetapan wilayah usaha;
    • Rancangan UU: f. Pengesahan rencana usaha penyediaan tenaga listrik;
    • Kajian Tim Ahli DPR: Tetap.
    • Tanggapan Fraksi:
      • FPDI-P: Meminta penjelasan pemerintah.
      • FG: Tetap.
      • FGerindra: Tetap.
      • FNasdem: Tetap.
      • FPKB: Tetap.
      • FPD: Tetap.
      • FPKS: Tetap.
      • FPAN: Tetap.
      • FPPP: Tetap.
      • DPD RI: Tetap.
  • DIM 2844:
    • Ketentuan UU: g. Penetapan izin jual beli tenaga listrik lintas negara.
    • Rancangan UU: g. Penetapan wilayah usaha;
    • Kajian Tim Ahli DPR: Tetap.
    • Tanggapan Fraksi:
      • FPDI-P: Meminta penjelasan pemerintah.
      • FG: Tetap.
      • FGerindra: Tetap.
      • FNasdem: Tetap.
      • FPKB: Tetap.
      • FPD: Tetap.
      • FPKS: Tetap.
      • FPAN: Tetap.
      • FPPP: Tetap.
      • DPD RI: Tetap.
  • DIM 2850:
    • Ketentuan UU: m. penetapan izin usaha jaa penunjang tenaga listrik yang dilakukan oleh badan usaha milik negara atau penanam modal asing/mayoritas seharusnya dimiliki oleh penanam modal asing;
    • Rancangan UU: m. pembinaan dan pengawasan kepada badan usaha di bidang ketenagalistrikan.
    • Kajian Tim Ahli DPR: Tetap.
    • Tanggapan Fraksi:
      • FPDI-P: Meminta penjelasan pemerintah.
      • FG: Tetap.
      • FGerindra: Tetap.
      • FNasdem: Tetap.
      • FPKB: Tetap.
      • FPD: Tetap.
      • FPKS: Tetap.
      • FPAN: Tetap.
      • FPPP: Tetap.
      • DPD RI: Tetap.
  • DIM 2857:
    • Ketentuan UU: (3) Rencana umum ketenagalistrikan daerah disusun berdasarkan pada rencana umum ketenagalistrikan nasional dan ditetapkan oleh pemerintah daerah setelah berkonsultasi dengan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah.
    • Rancangan UU: (3) Ketentuan mengenai pedoman penyusunan rencana umum ketenagalistrikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Pemerintah.
    • Kajian Tim Ahli DPR: Tetap.
    • Tanggapan Fraksi:
      • FPDI-P: Usulan perubahan: Ketentuan mengenai pedoman penyusunan rencana umum ketenagalistrikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Menteri.
      • FG: Tetap.
      • FGerindra: Tetap.
      • FNasdem: Tetap.
      • FPKB: Tetap.
      • FPD: Tetap.
      • FPKS: Tetap.
      • FPAN: Tetap.
      • FPPP:
      • DPD RI: Tetap.
  • DIM 2865:
    • Ketentuan UU: (3) Usaha penyediaan tenaga listrik untuk kepentingan umum sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilakukan oleh 1 (satu) badan usaha dalam 1 (satu) wilayah usaha.
    • Rancangan UU: (3) Usaha penyediaan tenaga listrik untuk kepentingan umum secara terintegrasi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilakukan oleh 1 (satu) badan usaha dalam 1 (satu) wilayah usaha.
    • Kajian Tim Ahli DPR: Tetap.
    • Tanggapan Fraksi:
      • FPDI-P: Tetap.
      • FG: Tetap.
      • FGerindra: Tetap.
      • FNasdem: Tetap.
      • FPKB: Tetap.
      • FPD: Tetap.
      • FPKS: Tetap.
      • FPAN: Tetap.
      • FPPP: Tetap.
      • DPD RI: Tetap.
  • DIM 2866:
    • Ketentuan UU: (4) Pembatasan wilayah usaha sebagaimana dimaksud pada ayat (3) juga berlaku untuk kepentingan umum yang hanya meliputi distribusi tenaga listrik dan/atau penjualan tenaga listrik.
    • Rancangan UU: (4) Dalam hal usaha pembangkitan, transmisi, distribusi, dan penjualan dilakukan secara terintegrasi, usaha pembangkitan dan/atau transmisi dapat dilakukan di luar wilayah usahanya.
    • Kajian Tim Ahli DPR: Tetap.
    • Tanggapan Fraksi:
      • FPDI-P: Meminta penjelasan pemerintah.
      • FG: Tetap.
      • FGerindra: Tetap.
      • FNasdem: Tetap.
      • FPKB: Tetap.
      • FPD: Tetap.
      • FPKS: Tetap.
      • FPAN: Tetap.
      • FPPP: Tetap.
      • DPD RI: Tetap.
  • DIM 2867:
    • Ketentuan UU: (5) Wilayah usaha sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dan ayat (4) ditetapkan oleh Pemerintah.
    • Rancangan UU: (5) Usaha penyediaan tenaga listrik untuk kepentingan umum dengan jenis usaha distribusi tenaga listrik dan/atau penjualan tenaga listrik dilakukan oleh 1 (satu) badan usaha dalam 1 (satu) Wilayah Usaha.
    • Kajian Tim Ahli DPR: Tetap.
    • Tanggapan Fraksi:
      • FPDI-P: Meminta penjelasan pemerintah.
      • FG: Tetap.
      • FGerindra: Tetap.
      • FNasdem: Tetap.
      • FPKB: Tetap.
      • FPD: Tetap.
      • FPKS: Tetap.
      • FPAN: Tetap.
      • FPPP: Tetap.
      • DPD RI: Tetap.
  • DIM 2868:
    • Ketentuan UU:
    • Rancangan UU: (6) Ketentuan lebih lanjut mengenai Wilayah Usaha sebagaimana dimaksud pada ayat (3), ayat (4), dan ayat (5) diatur dengan Peraturan Pemerintah.
    • Kajian Tim Ahli DPR: Tetap.
    • Tanggapan Fraksi:
      • FPDI-P: Meminta penjelasan pemerintah.
      • FG: Tetap.
      • FGerindra: Tetap.
      • FNasdem: Tetap.
      • FPKB: Tetap.
      • FPD: Tetap.
      • FPKS: Tetap.
      • FPAN: Tetap.
      • FPPP: Tetap.
      • DPD RI: Tetap.
  • DIM 2872:
    • Ketentuan UU: (3) Untuk wilayah yang belum mendapatkan pelayanan tenaga listrik, Pemerintah atau pemerintah daerah sesuai kewenangannya memberi kesempatan kepada badan usaha milik daerah, badan usaha swasta, ayau koperasi sebagai penyelenggara usaha penyediaan tenaga listrik terintegrasi.
    • Rancangan UU: (3) Badan usaha milik negara, badan usaha milik daerah, badan usaha swasta, koperasi, dan swadaya masyarakat dalam melakukan usaha penyediaan tenaga listrik untuk kepentingan umum wajib mengutamakan produk dan potensi dalam negeri.
    • Kajian Tim Ahli DPR: Tetap.
    • Tanggapan Fraksi:
      • FPDI-P: Tetap.
      • FG: Tetap.
      • FGerindra: Tetap.
      • FNasdem: Tetap.
      • FPKB: Tetap.
      • FPD: Tetap.
      • FPKS: Tetap.
      • FPAN: Tetap.
      • FPPP: Tetap.
      • DPD RI: Tetap.
  • DIM 2873:
    • Ketentuan UU: (4) Dalam hal tidak ada badan usaha milik daerah, badan usaha swasta, atau koperasi yang dapat menyediakan tenaga listrik di wilayah tersebut, Pemerintah wajib menugasi badan usaha milik negara untuk menyediakan tenaga listrik.
    • Rancangan UU: (4) untuk wilayah yang belum mendapatkan pelayanan tenaga listrik, Pemerintah Pusat memberi kesempatan kepada badan usaha milik daerah, badan usaha milik swasta, atau koperasi sebagai penyelenggara usaha penyediaan tenaga listrik terintegrasi.
    • Kajian Tim Ahli DPR: Tetap.
    • Tanggapan Fraksi:
      • FPDI-P: Tetap.
      • FG: Tetap.
      • FGerindra: Tetap.
      • FNasdem: Tetap.
      • FPKB: Tetap.
      • FPD: Tetap.
      • FPKS: Tetap.
      • FPAN: Tetap.
      • FPPP: Tetap.
      • DPD RI: Tetap.
  • DIM 2874:
    • Ketentuan UU:
    • Rancangan UU: (5) Dalam hal tidak ada badan usaha milik daerah, badan usaha swasta, atau koperasi yang dapat menyediakan tenaga listrik di wilayah tersebut, Pemerintah Pusat wajib menugasi badan usaha milik negara untuk menyediakan tenaga listrik.
    • Kajian Tim Ahli DPR: Tetap.
    • Tanggapan Fraksi:
      • FPDI-P: Tetap.
      • FG: Tetap.
      • FGerindra: Tetap.
      • FNasdem: Tetap.
      • FPKB: Tetap.
      • FPD: Tetap.
      • FPKS: Tetap.
      • FPAN: Tetap.
      • FPPP: Tetap.
      • DPD RI: Tetap.

Tim Pemerintah

  • Usulan rumusan Pasal pengaturan sub klaster mineral dan minerba dalam RUU Cipta Kerja:
    • RUU Cipta Kerja:
    • Usulan baru dalam RUU Cipta Kerja: Di antara ketentuan Pasal 172E dan Pasal 173 disisipkan 1 (satu) Pasal yakni Pasal 172F sehingga berbunyi sebagai berikut: Pasal 172F Ketentuan terkait tahapan kegiatan, jaminan peningkatan tahap kegiatan eksplorasi menjadi tahap kegiatan operasi produksi, dan ketentuan yang dimuat dalam izin yang berlaku bagi IUP sebagaimana diatur dalam Undang-Undang No. 3 Tahun 2020 tentang Perubahan atas Undang-Undang No. 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2020 No. 147, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 6525) berlaku secara mutatis mutandis terhadap IUPK.
    • Keterangan: Bahwa UU No, 3 Tahun 2020 tidak mengubah seluruh pengaturan IUPK dalam UU No. 4 Tahun 2009, sehingga perlu ditambahkan pengaturan bahwa ketentuan IUP berlaku secara mutatis mutandis terhadap IUPK.
  • Perlakuan terhadap Izin Usaha Pertambangan Khusus (IUPK) mengikuti UU No. 3 Tahun 2020 tentang Pertambangan Minerba.
  • Mengenai DIM 2689 dan berikutnya yang menyatakan “kewenangan”, sudah disepakati sebelumnya pada pasal 5,6, dan 8 bahwa terkait Pemerintah daerah dikembalikan dengan konstruksi.
  • Pelaksanaan pemanfaatan langsung termasuk penetapan harga yang akan dilakukan oleh Pemda ini yang akan dilakukan NSPK. Dengan menghapuskan pasal ini, bahwa kewenangan ini tidak perlu dilakukan oleh Pemerintah Pusat, sehingga tidak dihilangkan begitu saja.
  • Selama ini yang tertera adalah “pinjam pakai” dan ada jangka waktu, sudah sering digunakan di ESDM Pertambangan mengenai pinjam pakai.
  • Pasal 2738 ini agar investasi yang dimaksud tidak berbeda dengan yang Pemerintah maksud, maka kata “izin” menjadi “perizinan berusaha”
  • Pemerintah menghilangkan iuran produksinya sehingga tidak ada iuran lagi.
  • Mengenai nomenklatur izin sudah disederhanakan sehingga tidak perlu disebut satu per satu lagi.
  • Izin penggunaan di dalam aturan yang lama sudah dimintakan. Untuk yang 500 KVA ke atas hanya perlu melapor ke Dinas setempat.
  • Esensinya untuk kepentingan sendiri hanya memenuhi standar saja dan melaporkan sehingga Pemerintah harus mengubah istilahnya saja.
  • Sebagaimana disampaikan untuk kewenangan daerah disesuaikan dengan nomenklatur dan rumusan yang baru.

Pemantauan Rapat

Berikut merupakan respon anggota terhadap pemaparan mitra:

Rangkuman Terkait

Komisi / Alat Kelengkapan Dewan